YANG TERSISA DARI KEBANGKITAN

Yang Tersisa dari Kebangkitan


Oleh P. Erik Ebot, SVD*

Kisah injil hari ini lagi-lagi kembali mengisahkan tentang Maria Magdalena dan kebangkitan Yesus. Dikatakan bahwa Maria Magdalena berdiri dekat kubur Yesus dan menangis meratapi hilangnya Jenazah Yesus. Berdiri di dekat kubur dan menangis sesungguhnya menggambarkan relasi yang begitu dekat antara Yesus dan Maria Magdalena.

Reaksi Maria Magdalena adalah reaksi emosional yang wajar terhadap sebuah pengalaman kehilangan yang beruntun dirasakannya. Ia sudah kehilangan Yesus yang memberikan semangat. Lantas sekarang dia kehilangan kontrol atas hidupnya karena jenazah Yesus lenyap dari makam.

Reaksi Maria Magdalena juga adalah reaksi kita. Saat ini kita merasakan pedihnya pengalaman kehilangan. Tinggal di rumah membuat masa-masa produktif kita lalui dengan tanpa makna. Hari-hari yang biasanya kita awali dengan perayaan ekaristi bersama lewat begitu saja. Hari-hari di mana kita mengabdi Tuhan melalui peran dan tugas pelayanan kita terhadap sesama hilang seiring diperpanjangnya masa kerja dari rumah. Menyedihkan dan membuat sebagian dari kita menangis. Ya. Virus corona merenggut keceriaan dan sukacita hidup kita.

Kehilangan Yesus merenggut harapan  dan semangat Maria Magdalena yang lalu membuat dirinya menangis tanpa kontrol, tapi juga pengalaman ini menyiratkan bahwa masih ada ketergantungan besar Maria Magdalena dan juga mungkin para Murid lain terhadap Yesus. Jauh di lubuk hatinya, ia dan para Murid lain sangat mengharapkan Yesus untuk hidup kembali, ada bersama mereka serta berjuang bersama. Seperti yang Dia pernah lakukan terhadap Lazarus. Akan tetapi harapan manusia yang terbatas itu tidak terjadi.

Yesus, menyadari betapa para Murid masih saja bergantung dengan-Nya walaupun Dia sudah wafat. Karena itu Ia bertanya kepada Maria: “Ibu Mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Pertanyaan ini, bukan hanya sebuah ekspresi yang mengungkapkan empati atau peduli, tapi gugatan, kalau tidak mau mengatakan emosi dari seorang guru yang sedih, kecewa dan juga resah, melihat Maria Magdalena yang rapuh, lemah, dan masih belum paham, serta masih bergantung terhadap Yesus. Maria Magdalena dan kemungkinan para Murid lain mengharapkan suatu yang tidak realistis. Yesus hidup kembali. Itu tidak mungkin.

***
Apa sebenarnya yang Yesus kehendaki dari kisah kebangkitan-Nya? Dalam tafsiran saya, yang Yesus mau sebenarnya adalah Para Murid bisa berjuang sendiri tanpa kembali tergantung dan mengharapkan Yesus hidup kembali untuk ada dan terus membimbing mereka, agar tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Sudah saatnya, Para Murid mandiri, belajar sendiri dan cari cara untuk bisa melanjutkan misi Allah dalam dunia. Tentunya caranya bukan dengan ugal-ugalan dan ceroboh. Caranya harus manusiawi, strategis serta tidak mati bodoh, “Hendaknya kalian cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. (Matius 10:16)

Yang Yesus mau sampaikan lewat kebangkitan-Nya adalah agar kita mesti berani menghadapi hidup kita apa adanya. Mengambil resiko dan menyadari konsekuensi dari pilihan kita. “Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak, selebihnya berasal dari si jahat (mat. 5:17).

Yesus ingin bahwa bukan fisik-Nya lagi yang harus berada bersama para Murid-Nya, tapi jiwa, spirit kebangkitan dan pesan perjuangan-Nya harus sudah hidup dalam hati para Murid dan memperjuangkan spirit tersebut dan melanjutkanya dalam hidup harian. Cukup sudah kembali kepada romantisme sejarah, tentang bagaimana Yesus melakukan mujizat doa dan penyembuhan yang begitu hebat membuat banyak orang tertarik mengikuti Yesus.

Yang paling penting adalah masa sekarang, bagaimana membuat hidup lebih hidup untuk diri dan bagi orang lain. Mujizat yang kita lakukan hari ini adalah ketika kita masih bisa memperjuangkan hidup kita, dan membuat orang lain bahagia dengan tindakan kita.

“Mujizat terjadi ketika kita sebanyak-banyaknya menggunakan energi kita untuk memperjuangkan mimpi dan misi kebaikan, daripada menghabiskan energi itu untuk larut dalam kecemasan, takut serta menangis tak karuan”.

Singkatnya bahwa pesan kebangkitan Yesus, harusnya membentuk kita menjadi subjek atau pribadi yang militan, tahan banting, menjadi pribadi yang tidak lemah, tidak cepat putus asa berhadapan dengan pengalaman negatif yang kita alami dan mencari cara untuk bangkit, untuk membuat hidup lebih hidup dengan cara yang baik dan benar serta manusiawi.

***
Yesus kemudian melanjutkan pesan-Nya, “Jangan menyentuh Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa." Di sini, Yesus mengharapkan Maria Magdalena melepaskan semua ketergantungannya pada Yesus. Di sini Yesus  mendesak  Maria Magdalena dan kita semua yang masih takut dengan  situasi kita untuk menguburkan model manusia yang rapuh dalam makam itu dan pergi sebagai manusia yang baru untuk  melanjutkan misi memperjuangkan hal yang baik di tengah dunia yang sakit. Kita mesti menjadi manusia yang positif dan penyebar optimisme di tengah kehidupan dunia yang kehilangan harapan dan semangat.

Dalam spirit kebangkitan, kita mesti mewartakan dengan jujur bahwa hidup itu bukan tentang menghindari penderitaan untuk bahagia, tapi menghadapinya demi mencapai kebahagian yang sejati. Seperti diungkapkan Paus Fransiskus, "Kebangkitan dicapai melalui penderitaan dan salib bukan melewatinya."

 “Jangan menyentuh Aku." Melalui kalimat ini Yesus mau menekankan kalimat selanjutnya,  “tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku  dan katakanlah kepada mereka bahwa  sekarang Aku pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allah-mu”. Apa yang penting sekarang adalah aktualisasi pesan kebangkitan. Yang paling penting adalah bukan berpikir untuk mengubah dunia, tapi melakukan perubahan terhadap dunia. Bukan dengan hal serta cara yang besar tapi dengan cinta yang besar.

Melalui pesan ini, Yesus memberikan motivasi kepada Maria Magdalena dan kepada kita sekalian bahwa tugas atau misi mewartakan dan memperjuangkan kebaikan dan kebenaran yang dilakukan Yesus bukan hanya tugas kemanusiaan, tapi tugas Ilahi yang mendapatkan legitimasi dari Allah sendiri. Maka, Ia mendesak kita untuk “Carilah dan usahakan kerajaan Allah serta kebenarannya lebih dahulu dalam hidupmu, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.”

Amin!

*Rumah Pastoran Waibalun, 
Selasa 14 April 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN

MELIHAT DENGAN MATA IMAN

GEREJA HATI