KARANTINA SPIRITUAL

KARANTINA SPIRITUAL
(Renungan Minggu Palma, 05 April 2020)

(Foto: Gereja Lama St. Ignasius Waibalun)

Oleh P. Erik Ebot, SVD*

Virus Corona adalah bencana tapi juga berkat bagi kita. Ia membawa bencana karena virus ini sudah banyak menelan korban jiwa seluruh dunia. Selain itu virus ini pun membuat segala aspek dalam kehidupan sosial bermasyarakat macet total dan terganggu. Virus corona memaksa kita untuk lebih banyak tinggal di rumah, dari biasanya. Gara-gara virus corona, kegiatan ibadat, doa dan misa harus kita ikuti dari rumah masing-masing. Ya rasa berbeda, kering dan mungkin membosankan, tapi itulah situasi kita. Kondisi mengharuskan kita seperti ini. Tapi dia juga berkat, karena kita jadi punya waktu untuk ada di rumah menjalankan karantina fisik juga karantina spiritual.

Kita sudah memasuki Minggu palma. Kita juga sudah mengikuti perayaan misa bersama melalui gadget kita, Hp dan TV kita. Perayaan minggu palma yang kita telah rayakan juga adalah sebuah kenangan akan peristiwa Yesus masuk ke kota Yerusalem. Kota Yerusalem adalah kota yang penuh semarak, kota yang menjadi pusat segala sesuatu: politik, ekonomi, sosial dan keagamaan.

Yesus, seorang dari kampung Nazareth bukanlah siapa-siapa. Dia kalah populer di bandingkan pemuka agama, raja Herodes dan para Ahli taurat. Yesus tidak punya kuasa (jabatan dunia) dibandingkan orang-orang yang disebutkan tadi. Tapi toh, orang merayakan masuknya Yesus ke Yerusalem.

Orang banyak menyambut-Nya sebagai raja, yang akan membebaskan mereka dari belenggu para pemuka agama, ahli taurat dan raja yang seringkali mengekang kebebasan, membatasi kreatifitas sekaligus membuat orang-orang Yahudi tidak mampu melihat apa yang lebih dalam dari hukum taurat, yakni-nilai-nilai kehidupan yang Yesus ajarkan sepanjang hidup dan karya-Nya kepada mereka. Para penguasa ini peneror ketakutan kepada rakyat yang kemudian tidak bisa buat apa-apa selain tunduk dan patuh walau kondisi mereka menderita. Sorakan orang Yahudi adalah dorongan untuk Yesus sekaligus suara yang memberontak, suara perlawanan terhadap para penguasa di Yerusalem. Dalam nama Yesus yang hari ini ada bersama kami, mereka berteriak lantang “Kami tidak takut”, “kami siap Melawan”.

Dalam hati-Nya, pasti Yesus juga memikirkan konsekuensi sosial dan politik dari sambutan dan sorakan dari orang-orang banyak ini. Ketakutan dan kecemasan Yesus sebagai manusia pasti ada. Tetapi dia menyerahkan semua ketakutan pada Bapa-Nya. Karena memang misi pembebasan orang kecil dari belenggu penguasa lalim adalah kehendak Bapa sendiri. Dalam riuhnya sorakan orang-orang Yahudi, Dia menyadari sepenuhnya tanggung jawab untuk menjadi wakil dari orang-orang kecil Yahudi dalam menyuarakan pembebasan dari teror ketakutan yang dilancarkan para penguasa.

Perjalanan Yesus ke Yerusalem bukan hanya perjalanan untuk menderita tetapi juga perjalanan untuk ‘meyakinkan dan memberi energi pada suara pembebasan bagi orang-orang kecil, mereka yang datang menyambut-Nya di jalan ke Yerusalem. Yesus membawa semua itu, merangkul semua harapan dan kerinduan itu. Dan kehadiran Yesus di hadapan para penguasa, pemuka agama, para Ahli taurat, orang Farisi dan juga Herodes, memang melegakan orang kecil yang diwakili-Nya serentak membawa kekuatiran yang besar bagi para penguasa.

Yesus tidak menggertak lawan dengan gertakan para penguasa. Dia hanya omong seperlunya. Dia selebihnya diam dalam ketulusan dan kelemahlembuta-Nya. Dia menerima semua dakwaan yang diberikan kepada-Nya. Ketakutan, teror kecemasan dan teriakan penghinaan dari para algojo tidak membuat Yesus takut, cemas, memohon untuk tidak dihukum. Tapi, dalam iman dan ketaatan kepada Bapa, Yesus menerima semuanya. “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan penderitaan ini berlalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendak. ( Mat. 26:39).

Sama saudara-saudari, sorak-sorai kita, sukacita dan kebahagiaan kita dalam mengiringi dan menyambut Yesus masuk ke Yerusalem saat ini diganggu dan ditantang oleh teror ketakutan dan kepanikan yang luar biasa dari virus corona. Teror ketakutan virus corona seperti teror para penguasa, dalam diri para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi serta Herodes, yang membuat kita tak berdaya dan membuat kita rindu agar Yesus ada bersama kita untuk membebaskan dan menyelamatkan kita.

Dalam perayaan penyambutan Yesus ke Yerusalem hari ini, kerinduan dan ketakberdayaan kita di tengah situasi teror corona sudah kita titip bersama Yesus pada hari ini. Yesus merangkul semua harapan dan kerinduan hati kita itu. Kita memang tidak bisa ada bersama di dalam Gereja untuk bersama Yesus masuk ke kota Yerusalem tapi kita disatukan oleh Yesus dalam kerinduan dan keinginan bersama untuk terbebas dari teror virus corona ini.

Apa yang Yesus inginkan dari kita agar kerinduan dan pembebasan dari corona dapat terealisasi adalah ketaatan dan kesetiaan iman kita kepada kehendak Bapa. Yesus sang Guru sudah menunjukkan model ketaatan dan kesetiaan iman itu pada hari ini. Maka sebagai Murid Kristus, kita sudah seharusnya meneladani sikap Yesus dalam kehidupan kita setiap hari.

Di tengah teror ketakutan, kepanikan dan kecemasan yang disebabkan oleh virus corona, kita seharusnya, seperti Yesus dalam kelemahlembutan menerima semua itu dan dalam iman, percaya bahwa itu semua adalah kehendak Bapa bagi kita. Seperti Yesus, dalam situasi sengsara dan teror, Ia tetap tenang menghadapi semuanya. Yesus hanya memikirkan perkara dan kehendak Bapa-nya. Karena Bapa-Nya dia tahu dan kenal, tidak akan pernah meninggalkannya sendirian.

Karena itu, minggu palma sebagai pekan menuju masa sengsara mengajak kita bukan hanya menjalani karantina fisik, tinggal di rumah saja, tapi juga kita jalani karantina spiritual. Dalam karantina spiritual, kita diajak untuk tidak memikirkan perkara dunia yang membelenggu hidup kita, tapi seperti Yesus dalam ketakutan, kecemasan dan teror kepanikan corona, kita diminta untuk fokus memikirkan perkara Yang Di Atas, yaitu kehendak Allah bagi hidup kita. Penderitaan kita di tengah virus corona hanya akan bermakna ketika kita punya iman dan membiarkan Yesus membebaskan kita dari percobaan.

Yesus meraja sebagai hamba, meng-hamba sehingga meraja. Dan Allah Bapa akan membenarkan Hamba-Nya yang benar. Inilah kabar Gembira dan harapan bagi kita di hari perayaan minggu palma ini.

Selamat memasuki masa karantina spiritual!


*Rumah Pastoran Waibalun, 05 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN

MELIHAT DENGAN MATA IMAN

GEREJA HATI