MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN
'Memberi': Memuliakan Kemanusiaan
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Seorang kawan mengatakan kepada saya seperti ini: "Melakukan kebaikan itu seperti menanam satu biji mangga. Dari satu biji mangga yang kita tanam niscaya akan menghasilkan satu pohon dengan banyak buah yang lebat. Seperti halnya menanam satu biji mangga tadi, ketika kita rajin menanam kebaikan, maka pada masanya kita akan memanen hasil yang berlipat ganda."
Terkait tindakan kebaikan yang membuat berlipat ganda itu, saya ingat Injil Yohanes hari ini yang melaporkan kisah tentang Yesus yang melakukan penggandaan Roti di dekat danau Tiberias, tepatnya di atas gunung, untuk ribuan orang yang mengikuti-Nya. Hari yang terik bikin gerah pastinya membuat banyak orang lelah dan lapar. Akan tetapi di sekitar tempat mereka berada, tidak ada tempat makan. Karena itu, sulit untuk mendatangkan roti apalagi untuk memberikannya kepada orang yang begitu banyak.
Akan tetapi justru dalam kesulitan situasi ini Yesus melakukan mujizat. Lima roti jelai dan dua ikan digandakan Yesus menjadi begitu banyak sehingga mampu memberi makan ribuan orang. Bahkan dikatakan dalam injil, dari lima roti dan dua ikan yang digandakan itu masih tersisa 12 bakul penuh. Sungguh luar biasa.
***
Kisah mujizat penggandaan roti bagi saya sungguh mengagumkan. Akan tetapi, kisah ini tidak hanya menekankan mujizat yang dilakukan Yesus. Tapi lebih dari itu, penginjil Yohanes menekankan apa yang Yesus inginkan adalah soal reaksi manusia dan keaktifannya untuk memungkinkan kuasa Allah itu terjadi dalam kehidupan. Mujizat penggandaan roti dan ikan yang dilakukan Yesus tidak akan terjadi, jika anak yang darinya diambil lima roti dan dua ikan, tidak memberikan roti dan ikan yang ada padanya dan memakannya sendiri bersama dengan keluarganya.
Di sini bahwa lima roti dan dua ekor ikan di satu sisi menjelaskan keadaan cukup bagi anak itu dan keluarga, tapi dalam konteks atau kaitannya dengan keseluruhan ribuan orang yang ada di situ situasi lima roti dan dua ikan adalah sebuah gambaran tentang kekurangan, kesulitan, yang juga turut menegaskan kondisi ribuan orang yang kelaparan dan berada dalam situasi tidak pasti.
Justru, selanjutnya mujizat terjadi ketika ada lima roti dan dua ikan yang diberikan anak itu. Kuasa Allah menguat di tengah kelemahan dan kekurangan dan kerinduan manusia akan kuasa itu. Di sini mau dikatakan, Mujizat Tuhan tidak hanya akan terjadi jika ada pertemuan antara rahmat Allah dan kelemahan dan kekurangan manusia. Tapi lebih dari itu mujizat Tuhan terjadi, ketika ada manusia yang rela memberikan dari kelebihannya untuk membantu sesamanya.
Hari-hari ini, covid-19 membuat hidup lumayan sulit dan rumit. Membaca injil hari ini membuat kita mudah sekali untuk mengidentifikan diri seperti banyak orang dalam injil yang lapar, lemah dan tidak pasti. Dalam situasi seperti itu, kita amat rindu Mujizat Tuhan terjadi dalam hidup kita.
***
Akan seperti yang saya sudah gambarkan sebelumnya, mujizat Tuhan hanya bisa terjadi ketika dalam situasi saat ini, kita saling bahu-membahu membangun rasa solidaritas, warga bantu warga, bukan sebaliknya warga tolak warga atau sebagian lain menimbun barang-barang kebutuhan untuk kepentingan diri.
Ribuan orang yang hari ini berbondong-bondong mengikuti Yesus hampir semuanya adalah orang tak berpunya. Hidupnya hanya bergantung pada Yesus. Mereka terancam mati lemas karena kelaparan. Tapi syukurlah, bahwa ada seorang anak bukan orang dewasa, yang punya hati memberikan roti dan ikannya serta merelakannya untuk dijadikan sarana bagi Yesus melakukan mujizat, sehingga ribuan orang itu selamat dan dapat melanjutkan hidup.
Mari kita memberikan apa yang kita miliki untuk mempertahankan keutuhan dan kemuliaan kehidupan bersama sebagai Gereja dan masyarakat. Orang bilang: “your greatness is not what you have, it’s what yo give” - Kemuliaan kita manusia itu bukan ketika kita mempunyai banyak, tapi ketika kita memberi banyak.
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Seorang kawan mengatakan kepada saya seperti ini: "Melakukan kebaikan itu seperti menanam satu biji mangga. Dari satu biji mangga yang kita tanam niscaya akan menghasilkan satu pohon dengan banyak buah yang lebat. Seperti halnya menanam satu biji mangga tadi, ketika kita rajin menanam kebaikan, maka pada masanya kita akan memanen hasil yang berlipat ganda."
Terkait tindakan kebaikan yang membuat berlipat ganda itu, saya ingat Injil Yohanes hari ini yang melaporkan kisah tentang Yesus yang melakukan penggandaan Roti di dekat danau Tiberias, tepatnya di atas gunung, untuk ribuan orang yang mengikuti-Nya. Hari yang terik bikin gerah pastinya membuat banyak orang lelah dan lapar. Akan tetapi di sekitar tempat mereka berada, tidak ada tempat makan. Karena itu, sulit untuk mendatangkan roti apalagi untuk memberikannya kepada orang yang begitu banyak.
Akan tetapi justru dalam kesulitan situasi ini Yesus melakukan mujizat. Lima roti jelai dan dua ikan digandakan Yesus menjadi begitu banyak sehingga mampu memberi makan ribuan orang. Bahkan dikatakan dalam injil, dari lima roti dan dua ikan yang digandakan itu masih tersisa 12 bakul penuh. Sungguh luar biasa.
***
Kisah mujizat penggandaan roti bagi saya sungguh mengagumkan. Akan tetapi, kisah ini tidak hanya menekankan mujizat yang dilakukan Yesus. Tapi lebih dari itu, penginjil Yohanes menekankan apa yang Yesus inginkan adalah soal reaksi manusia dan keaktifannya untuk memungkinkan kuasa Allah itu terjadi dalam kehidupan. Mujizat penggandaan roti dan ikan yang dilakukan Yesus tidak akan terjadi, jika anak yang darinya diambil lima roti dan dua ikan, tidak memberikan roti dan ikan yang ada padanya dan memakannya sendiri bersama dengan keluarganya.
Di sini bahwa lima roti dan dua ekor ikan di satu sisi menjelaskan keadaan cukup bagi anak itu dan keluarga, tapi dalam konteks atau kaitannya dengan keseluruhan ribuan orang yang ada di situ situasi lima roti dan dua ikan adalah sebuah gambaran tentang kekurangan, kesulitan, yang juga turut menegaskan kondisi ribuan orang yang kelaparan dan berada dalam situasi tidak pasti.
Justru, selanjutnya mujizat terjadi ketika ada lima roti dan dua ikan yang diberikan anak itu. Kuasa Allah menguat di tengah kelemahan dan kekurangan dan kerinduan manusia akan kuasa itu. Di sini mau dikatakan, Mujizat Tuhan tidak hanya akan terjadi jika ada pertemuan antara rahmat Allah dan kelemahan dan kekurangan manusia. Tapi lebih dari itu mujizat Tuhan terjadi, ketika ada manusia yang rela memberikan dari kelebihannya untuk membantu sesamanya.
Hari-hari ini, covid-19 membuat hidup lumayan sulit dan rumit. Membaca injil hari ini membuat kita mudah sekali untuk mengidentifikan diri seperti banyak orang dalam injil yang lapar, lemah dan tidak pasti. Dalam situasi seperti itu, kita amat rindu Mujizat Tuhan terjadi dalam hidup kita.
***
Akan seperti yang saya sudah gambarkan sebelumnya, mujizat Tuhan hanya bisa terjadi ketika dalam situasi saat ini, kita saling bahu-membahu membangun rasa solidaritas, warga bantu warga, bukan sebaliknya warga tolak warga atau sebagian lain menimbun barang-barang kebutuhan untuk kepentingan diri.
Ribuan orang yang hari ini berbondong-bondong mengikuti Yesus hampir semuanya adalah orang tak berpunya. Hidupnya hanya bergantung pada Yesus. Mereka terancam mati lemas karena kelaparan. Tapi syukurlah, bahwa ada seorang anak bukan orang dewasa, yang punya hati memberikan roti dan ikannya serta merelakannya untuk dijadikan sarana bagi Yesus melakukan mujizat, sehingga ribuan orang itu selamat dan dapat melanjutkan hidup.
Mari kita memberikan apa yang kita miliki untuk mempertahankan keutuhan dan kemuliaan kehidupan bersama sebagai Gereja dan masyarakat. Orang bilang: “your greatness is not what you have, it’s what yo give” - Kemuliaan kita manusia itu bukan ketika kita mempunyai banyak, tapi ketika kita memberi banyak.
*Rumah Pastoran Waibalun, 23 April 2020

Komentar
Posting Komentar