MELIHAT DENGAN MATA IMAN
Melihat dengan Mata Iman
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Injil hari ini menggunakan kata 'penampakan' untuk menggambarkan peristiwa perjumpaan Yesus dengan dua Murid. Istilah ‘penampakan’ muncul oleh karena sesuatu yang nampak itu tidak pernah ada atau sangat jarang muncul. Dalam kaitan dengan peristiwa penampakan Tuhan, perisitiwa ini terjadi oleh karena manusia berdosa telah terpisah dan terbuang dari hadapan Tuhan, sehingga Ia perlu menampakan diri. Peristiwa penampakan perlu terjadi agar manusia bisa mengetahui kehendak Allah.
Dua Murid itu meninggalkan Yerusalem, pulang menuju Emaus. Mereka meninggalkan tempat mereka mengalami sendiri trauma terberat dalam hidup mereka. Di Yerusalem, mereka menyaksikan ketakberdayaan Yesus sosok yang mereka anggap pahlawan di hadapan penguasa-penguasa lalim yang haus kuasa.
Mereka putus asa dan pulang ke Emaus. Pulang ke Emaus, berarti kembali ke kehidupan normal. Kembali ke kehidupan di mana hati mereka kerasan dan terbiasa dengan normalitas yang biasa yang walau tidak memberikan kebahagiaan dan kepuasan yang besar, tapi prinsipnya asal bisa hidup saja. Itu sudah cukup. Pulang ke Emaus berarti kembali ke zona ternyaman dalam hidup.
Saat hendak kembali ke zona nyaman hidup. Dua Murid ini bertemu Yesus. Dengan mata fisik mereka sukar mengenali Yesus. Mata fisik mereka sudah tidak terhubung dengan mata iman dan batin, karena mata fisik mereka terlampau fokus kepada berbagai persoalan-persoalan mereka, berbagai keputusasaan mereka, berbagai keluhan mereka. Dengan mata fisik sulit bagi mereka mengenali Yesus.
Tapi, Yesus perlahan membantu mereka untuk menjelaskan makna semua peristiwa itu. Yesus yang cukup kecewa dengan mangatakan “hai kamu Orang bodoh” menjelaskan dari Kitab Suci dasar utama dari penderitaan serta kebangkitan-Nya kepada mereka. Yesus mulai membuka selubung yang menghalangi pemahaman mereka tentang semua perisitiwa itu. Mereka berdiskusi hingga hari mulai malam. Bisa dibayangkan, bagaimana Yesus menjelaskan kisah-kisah itu dengan menarik sehingga kedua Murid pun mengajak Yesus untuk tetap bersama mereka dan nginap.
Pada akhirnya, kedua murid itu mampu mengenal Yesus ketika mereka melihat Yesus memecahkan Roti di hapadan mereka. Yesus mengalihkan orientasi mata fisik mereka dari keinginan untuk kembali ke zona nyaman menuju orientasi hidup yang paling menjadi prioritas sebagai Murid Yesus. Dari melihat dengan mata fisik mereka menjadi murid yang mampu melihat dengan mata iman.
Hati mereka berkobar-kobar, mengetahui Yesus membarui iman mereka. Pengalaman perjumpaan khusus ini membuat memutar haluan hidup dan mendesak mereka kembali ke Yerusalem untuk memberikan kesaksian tentang pertemuan itu kepada para Murid.
***
Situasi hidup saat ini membuat kita mudah sekali mengidentifikasikan diri kita dengan kedua Murid yang pulang ke Emaus ini. Kita berada dalam kondisi di mana kita merasa bosan dengan seluruh hidup kita, karena penyebaran virus corona tidak menunjukkan prospek yang sesuai dengan harapan kita. Kita juga seperti Murid Emaus yang merindukan dan ingin kembali hidup yang normal, menjalankan rutinitas seperti biasanya, tapi tetap menjadi seorang yang sama, tanpa pembaruan diri, tanpa menyadari bahwa kita bisa lebih baik dari kita yang sekarang.
Kita membutuhkan penampakaan Yesus seperti para Murid agar kita kembali menyadari tugas kehidupan yang sebenarnya? Saya kira menunggu penampakan itu cukup sulit. Tapi paling tidak adalah kita bisa belajar dari pengalaman dua murid Emaus pada hari ini.
Harus diakui situasi di tengah derasnya penyebaran Corona membuat kita pulang ke dalam diri. Sama seperti kuatnya tekanan ketakutan dan perasaan negatif yang dialami dua Murid yang membuat mereka harus pulang ke rumah mereka pasca penyaliban Yesus yang melahirkan trauma dan kepanikan.
Seperti dua Murid, kita sama-sama pulang ke dalam rumah kita dalam keadaan hati kita lemah dan takut untuk berhadapan dengan realitas di luar diri kita. Para Murid yang pulang tidak bisa melanjutkan misi pembebasan Yesus, mereka membiarkan kehendak Tuhan tertutup dengan pilihan mereka untuk pulang ke Emaus.
Dalam situasi seperti itu, kita sulit mengimajinasikan cita-cita pembebasan, sebuah cita-cita masyarakat baru yang lebih sehat, penuh solidaritas dan saling baku sayang dan respek. Situasi para Murid dan Corona memenjarakan kebebasan dan kemampuan berpikir kreatif kita untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik, yang lebih bernuansa Kerajaan Allah. Oleh situasi karena virus corona kita hanya memimpikan hal yang normal dan merencanakan apa saja yang dibuat setelah virus corona yang menakutkan ini berakhir.
***
Akan tetapi, Yesus membantu kita mengalihkan hati dan pikiran para Murid dari kontrol situasi yang menakutkan dan mencemaskan itu. Yesus Guru yang baik menunjukkan apa yang benar dan membangkitkan kesadaran baru dalam diri kedua Murid. Kalau mata fisik kita sulit sekali melihat kemungkinan di depan jalan, maka mata iman akan menyadarkan kita bahwa selalu ada kemungkinan baru bagi yang percaya. Iman selalu menolong budi, karena indera selalu tak mencukupi untuk melihat dan menyadari makna terdalam dari realitas.
Karena itu, Yesus tidak ingin kita para Murid-Nya menyerah dari proses ujian kemuridan. Yesus ingin kita tidak kembali menjadi diri yang sama sebelum mereka mengenal Yesus. Yesus selalu mampu membuat kita melihat dengan mata iman semua hal yang terjadi dalam hidup kita, sehingga dengan keyakinan, kemampuan serta daya refleksi kita, kita mampu menjadi Murid yang lebih dari sekadar percaya tapi merealisasikan apa yang dipercaya dalam kesaksian hidup yang meyakinkan. Tentang pesan ini, saya jadi ingat satu pesan penting dari Master shifu kepada sang Ninja Warrior, Po, dalam film Kungfu Panda 3: “Jika kita hanya melakukan apa yang kita dan hati kita lakukan serta rindukan, kita tidak akan pernah mampu melakukan lebih dari apa kita bisa dan rindukan saat ini."
Virus corona, membuat kita bertanya ulang bahwa apa yang normal kita buat selama ini sebenarnya tidak normal dan membahayakan. Jadi jangan sampai kita rindu kembali ke sesuatu yang kemudian membuat kita jatuh pada lubang yang sama.
Saya kira konkretisasi dari pesan kebangkitan adalah langkah transformasi, sebuah upaya baik untuk melepaskan diri dari kerapuhan dan berbagai perasaan negatif dan berusaha membentuk diri menjadi pribadi yang lebih bijaksana, tenang dan melihat segalanya dalam terang mata iman.
Amin.
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Injil hari ini menggunakan kata 'penampakan' untuk menggambarkan peristiwa perjumpaan Yesus dengan dua Murid. Istilah ‘penampakan’ muncul oleh karena sesuatu yang nampak itu tidak pernah ada atau sangat jarang muncul. Dalam kaitan dengan peristiwa penampakan Tuhan, perisitiwa ini terjadi oleh karena manusia berdosa telah terpisah dan terbuang dari hadapan Tuhan, sehingga Ia perlu menampakan diri. Peristiwa penampakan perlu terjadi agar manusia bisa mengetahui kehendak Allah.
Dua Murid itu meninggalkan Yerusalem, pulang menuju Emaus. Mereka meninggalkan tempat mereka mengalami sendiri trauma terberat dalam hidup mereka. Di Yerusalem, mereka menyaksikan ketakberdayaan Yesus sosok yang mereka anggap pahlawan di hadapan penguasa-penguasa lalim yang haus kuasa.
Mereka putus asa dan pulang ke Emaus. Pulang ke Emaus, berarti kembali ke kehidupan normal. Kembali ke kehidupan di mana hati mereka kerasan dan terbiasa dengan normalitas yang biasa yang walau tidak memberikan kebahagiaan dan kepuasan yang besar, tapi prinsipnya asal bisa hidup saja. Itu sudah cukup. Pulang ke Emaus berarti kembali ke zona ternyaman dalam hidup.
Saat hendak kembali ke zona nyaman hidup. Dua Murid ini bertemu Yesus. Dengan mata fisik mereka sukar mengenali Yesus. Mata fisik mereka sudah tidak terhubung dengan mata iman dan batin, karena mata fisik mereka terlampau fokus kepada berbagai persoalan-persoalan mereka, berbagai keputusasaan mereka, berbagai keluhan mereka. Dengan mata fisik sulit bagi mereka mengenali Yesus.
Tapi, Yesus perlahan membantu mereka untuk menjelaskan makna semua peristiwa itu. Yesus yang cukup kecewa dengan mangatakan “hai kamu Orang bodoh” menjelaskan dari Kitab Suci dasar utama dari penderitaan serta kebangkitan-Nya kepada mereka. Yesus mulai membuka selubung yang menghalangi pemahaman mereka tentang semua perisitiwa itu. Mereka berdiskusi hingga hari mulai malam. Bisa dibayangkan, bagaimana Yesus menjelaskan kisah-kisah itu dengan menarik sehingga kedua Murid pun mengajak Yesus untuk tetap bersama mereka dan nginap.
Pada akhirnya, kedua murid itu mampu mengenal Yesus ketika mereka melihat Yesus memecahkan Roti di hapadan mereka. Yesus mengalihkan orientasi mata fisik mereka dari keinginan untuk kembali ke zona nyaman menuju orientasi hidup yang paling menjadi prioritas sebagai Murid Yesus. Dari melihat dengan mata fisik mereka menjadi murid yang mampu melihat dengan mata iman.
Hati mereka berkobar-kobar, mengetahui Yesus membarui iman mereka. Pengalaman perjumpaan khusus ini membuat memutar haluan hidup dan mendesak mereka kembali ke Yerusalem untuk memberikan kesaksian tentang pertemuan itu kepada para Murid.
***
Situasi hidup saat ini membuat kita mudah sekali mengidentifikasikan diri kita dengan kedua Murid yang pulang ke Emaus ini. Kita berada dalam kondisi di mana kita merasa bosan dengan seluruh hidup kita, karena penyebaran virus corona tidak menunjukkan prospek yang sesuai dengan harapan kita. Kita juga seperti Murid Emaus yang merindukan dan ingin kembali hidup yang normal, menjalankan rutinitas seperti biasanya, tapi tetap menjadi seorang yang sama, tanpa pembaruan diri, tanpa menyadari bahwa kita bisa lebih baik dari kita yang sekarang.
Kita membutuhkan penampakaan Yesus seperti para Murid agar kita kembali menyadari tugas kehidupan yang sebenarnya? Saya kira menunggu penampakan itu cukup sulit. Tapi paling tidak adalah kita bisa belajar dari pengalaman dua murid Emaus pada hari ini.
Harus diakui situasi di tengah derasnya penyebaran Corona membuat kita pulang ke dalam diri. Sama seperti kuatnya tekanan ketakutan dan perasaan negatif yang dialami dua Murid yang membuat mereka harus pulang ke rumah mereka pasca penyaliban Yesus yang melahirkan trauma dan kepanikan.
Seperti dua Murid, kita sama-sama pulang ke dalam rumah kita dalam keadaan hati kita lemah dan takut untuk berhadapan dengan realitas di luar diri kita. Para Murid yang pulang tidak bisa melanjutkan misi pembebasan Yesus, mereka membiarkan kehendak Tuhan tertutup dengan pilihan mereka untuk pulang ke Emaus.
Dalam situasi seperti itu, kita sulit mengimajinasikan cita-cita pembebasan, sebuah cita-cita masyarakat baru yang lebih sehat, penuh solidaritas dan saling baku sayang dan respek. Situasi para Murid dan Corona memenjarakan kebebasan dan kemampuan berpikir kreatif kita untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik, yang lebih bernuansa Kerajaan Allah. Oleh situasi karena virus corona kita hanya memimpikan hal yang normal dan merencanakan apa saja yang dibuat setelah virus corona yang menakutkan ini berakhir.
***
Akan tetapi, Yesus membantu kita mengalihkan hati dan pikiran para Murid dari kontrol situasi yang menakutkan dan mencemaskan itu. Yesus Guru yang baik menunjukkan apa yang benar dan membangkitkan kesadaran baru dalam diri kedua Murid. Kalau mata fisik kita sulit sekali melihat kemungkinan di depan jalan, maka mata iman akan menyadarkan kita bahwa selalu ada kemungkinan baru bagi yang percaya. Iman selalu menolong budi, karena indera selalu tak mencukupi untuk melihat dan menyadari makna terdalam dari realitas.
Karena itu, Yesus tidak ingin kita para Murid-Nya menyerah dari proses ujian kemuridan. Yesus ingin kita tidak kembali menjadi diri yang sama sebelum mereka mengenal Yesus. Yesus selalu mampu membuat kita melihat dengan mata iman semua hal yang terjadi dalam hidup kita, sehingga dengan keyakinan, kemampuan serta daya refleksi kita, kita mampu menjadi Murid yang lebih dari sekadar percaya tapi merealisasikan apa yang dipercaya dalam kesaksian hidup yang meyakinkan. Tentang pesan ini, saya jadi ingat satu pesan penting dari Master shifu kepada sang Ninja Warrior, Po, dalam film Kungfu Panda 3: “Jika kita hanya melakukan apa yang kita dan hati kita lakukan serta rindukan, kita tidak akan pernah mampu melakukan lebih dari apa kita bisa dan rindukan saat ini."
Virus corona, membuat kita bertanya ulang bahwa apa yang normal kita buat selama ini sebenarnya tidak normal dan membahayakan. Jadi jangan sampai kita rindu kembali ke sesuatu yang kemudian membuat kita jatuh pada lubang yang sama.
Saya kira konkretisasi dari pesan kebangkitan adalah langkah transformasi, sebuah upaya baik untuk melepaskan diri dari kerapuhan dan berbagai perasaan negatif dan berusaha membentuk diri menjadi pribadi yang lebih bijaksana, tenang dan melihat segalanya dalam terang mata iman.
Amin.
*Rumah Pastoran Waibalun, 15 April 2020

Komentar
Posting Komentar