MARI BERPIKIR POSITIF

Mari Berpikir Positif

(Foto: Gereja St. Ignasius Waibalun)

Oleh P. Erik Ebot, SVD*


Seseorang pernah mengatakan ini kepada saya: “Jikalau engkau mau hidup bahagia dan hidupmu bermakna, maka lihat dan rasakan semua pengalaman yang engkau alami dengan menggunakan cara pandang positif."

Sulit dan ya memang akan sulit. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Hidup bukan tentang menanti agar badai berlalu, tetapi tentang usaha untuk belajar sekaligus menyesuaikan diri serta menari di tengah badai. Hidup seperti itu baru punya makna.

Ya, saya sepenuhnya setuju dengan nasihat bijaknya. Saya kira tidak ada alasan lagi untuk saya menolak kalimat nasihatnya itu. Hidup kita memang diciptakan untuk belajar memaknai setiap realita setiap hari. Kita adalah Homo Ludens, makhluk bermain. Integritas serta keutuhan pun makna hidup kita manusia akan menjadi lebih transparan dan nampak ketika kita ada dalam dunia serentak mengekspresikan diri kita melalui proses belajar terus menerus.

Kita bukan manusia yang dilepaskan begitu saja berkeliaran dan bebas menghuni bumi ini, tapi dengan kelengkapan akal budi dan hati yang kita punya, kita dibantu untuk dari hari-ke hari mengerti eksistensi (arti keberadaan) diri dalam dunia. Karena itu sering saya menasihati diri saya dengan kalimat ini: "Jangan pernah berhenti belajar karena hidup itu sendiri dinamis, terutama karena hidup tidak pernah berhenti memberikan kita pelajaran berharga."

Bacaan injil hari ini, dari injil Yohanes mengisahkan tentang cerita pengalaman Yesus bersama kedua belas para Murid pada perjamuan terakhir. Sudah pasti bahwa situasi perjamuan terakhir Yesus dan para Murid diadakan di tengah situasi takut, panik, bingung serta kecemasan dari para Murid. Karena dari kisah-kisah yang bisa kita baca pada bab sebelumnya, para Murid menyaksikan sendiri bagaimana tindakan frontal Yesus memantik kontroversi dan juga kemarahan para pejabat pemerintah pun agama Yahudi.

Para Murid sudah pasti tenggelam dalam situasi seperti itu dan sebagai manusia biasa mereka juga pasti merasakan ketegangan yang sama. Selain itu pula, Yesus sendiri juga sudah menubuatkan semua kejadian yang akan dialaminya dari bagaimana Yudas, sahabat sekaligus murid yang dipilihnya sendiri akan mengkhianati Dia, hingga penderitaan, wafat yang akan di alaminya di Yerusalem.

Kita bisa membayangkan sikap para Murid, sudah dibuat takut dan cemas tapi juga bingung dan dilema sambil mengharapkan semua akan baik-baik saja. Tapi juga sekaligus menerka-nerka dalam ketidakpastian ada apa sebenarnya di balik semua kejadian serta nubuat dari Mulut Yesus yang disampaikan kepada mereka itu.

Dalam situasi seperti itu, Injil Yohanes, merekam nasihat Yesus yakni untuk para Murid. Yesus mengajak mereka untuk melampaui keresahan dan segala ketakutan mereka sendiri serta melihat segala sesuatu dari kacamata Allah. Memandang dari kacamata Allah berarti memandang dari sudut pandang positif, bahwa segala pengalaman baik pun buruk sekalipun memberikan pelajaran serentak mengajak para murid untuk ada dan bersama Yesus melihat semuanya sebagai konsekuensi dari panggilan ke-murid-an.

Ketika memilih mengikuti dan menjalani kehendak Allah dalam diri maka konsekuensinya adalah kita menyangkal, melepaskan diri dari pengaruh pun kuasa kehendak dunia. Kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak, yang lebih dari itu berasal dari si jahat. “Kamu tidak bisa mengabdi sekaligus, Tuan atau-pun mamon." Mengikuti dan menjadi murid Yesus berarti memilih dengan tegas, menghadapi dengan tulus serta menguasai dengan penuh kontrol segala konsekuensi dari panggilan kemuridan itu.

Tidak ada jaminan bahwa mengikuti Yesus itu terlalu sulit pun terlalu gampang. Masing-masing kita akan dihadapkan dengan aneka tantangan dan kesulitan masing-masing. Hanya saja bahwa kita dilengkapi dengan iman untuk melihat segala sesuatu dari kaca mata Allah-positif. Kita juga memiliki akal budi, yang senantiasa harus kita pakai untuk membantu kita memahami, merefleksikan dalam terang iman semua kesulitan dan tantangan yang kita hadapi itu. Dan dalam semua proses itu kita diharapkan mampu melampaui ketakutan serta dilema-dilema yang ada serentak menemukan makna di balik semua pengalaman itu.

Dalam pekan suci dan menjelang upacara mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, kita dihadapkan situasi penuh ketidakpastian, dilema, kepanikan, keresahan serta galau gara-gara virus corona. Kita seperti para Murid dalam kisah injil, ada satu meja bersama Yesus, hendak makan bersama, tapi makanan dan minuman terasa hambar dan perjamuan terasa kelam dan jauh dari sukacita, karena kita masih dihantui perasaan takut, panik, bingung dengan semua yang kita rasakan dan kita alami akhir-akhir ini.

Virus corona adalah tantangan besar bagi kita dalam menghayati panggilan kita sebagai murid Kristus. Dalam kisah perjamuan terakhir ini, di tengah tantangan yang menghantui dan membuat dilema, komitmen para Murid diuji habis-habisan oleh Yesus. Apakah mereka memilih tetap bersama Yesus di meja perjamuan ataukah pergi? Dua pilihan itu ditawarkan Yesus.

Ketika kita membiarkan diri kita terus takut dan menyerah dengan keadaan yang ada di luar diri, kita membiarkan ketakutan menguasai kita. Dalam situasi ini, kita akan menjadi seperti Yudas, membiarkan diri kita dikuasai Iblis dan mudah bagi kita melepaskan iman kepada Yesus, serta berkhianat menyembah mamon.

Tetapi, sebaliknya bila kita memilih setia ada bersama Yesus dalam meja perjamuan dan mengikuti nasihat-Nya untuk mencoba memaknai semua hal, tantangan dan kesulitan yang kita alami dalam kacamata Allah, maka cepat atau lambat kita dibantu untuk memahami makna terdalam dari semuanya. Pada akhirnya pemahaman seperti ini akan mengubah kita menjadi pribadi yang terbiasa melihat dan memaknai segala sesuatu secara positif.

Kebahagiaan, sukacita dalam hidup bergantung dari cara pandang kita dan pilihan kita. Memilih berpikir negatif maka segala sesuatu akan dilihat secara negatif. Sebaliknya ketika kita memilih berpikir positif, maka segala sesuatu akan dilihat secara positif sebagai pembelajaran yang membantu kita memaknai keberadaan kita di dunia.

Latihlah pikiran dan hati untuk melihat menggunakan kacamata Allah.

Amin.


*Rumah Pastoran Waibalun, 07 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN

MELIHAT DENGAN MATA IMAN

GEREJA HATI