KUNJUNGAN YANG MEMBEBASKAN
KUNJUNGAN YANG MEMBEBASKAN
(Renungan Harian, Senin 06 April 2020)
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang datang mengunjungi rumah keluarga tiga bersaudara, Lazarus, Marta dan Maria. Yesus datang lagi ke rumah mereka, setelah mujizat luar biasa membangkitkan Lazarus dalam kisah injil sebelumnya.
Kisah dihidupkannya lagi Lazarus oleh Yesus, memantik kontroversi besar di seluruh wilayah, termasuk di Yerusalem. Cerita luar biasa ini sudah tersebar ke mana-mana, termasuk ke telinga Para Imam kepala dan orang-orang Farisi.
Setelah membangkitkan Lazarus, Yesus sebenarnya sudah tidak ingin tampil di depan umum lagi, di hadapan orang yahudi karena dia tahu Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi sudah merencanakan pembunuhan terhadap Dia dan memerintahkan bawahan mereka untuk menemukan Yesus dan menangkap Dia. Yesus lebih memilih berhati-hati dalam bertindak.
Akan tetapi, dalam situasi seperti ini, Yesus tidak sedikitpun gentar. Dia tetap datang mengunjungi keluarga tiga bersaudara ini. Dia mengetahui tindakan-Nya membangkitkan Lazarus juga membawa efek yang besar bagi keluarga Lazarus dan Marta dan Maria. Ketiganya pasti juga menjadi sasaran teror dari para Ahli taurat, para Imam dan orang Farisi, setelah mereka secara terbuka menerima Yesus dan membiarkan Yesus membangkitkan saudara mereka, Lazarus. Tindakan membiarkan Yesus melakukan mujizat, apalagi di hadapan banyak orang Yahudi adalah sebuah “pembangkangan religius serentak penolakan terhadap hukum taurat yang mana para Ahli taurat dan Imam kepala sudah ajarkan kepada mereka."
Dan apa yang terjadi, kunjungan Yesus untuk kedua kalinya membawa penghiburan, membawa sukacita dan kebahagian bagi mereka bertiga. Segala ketakutan, kecemasan dan kepanikan mereka dikalahkan dengan sukacita dan kebahagiaan yang dibawa Yesus. Mereka menyambut Yesus masuk ke dalam rumah dan hati mereka dengan penuh semangat.
Gambaran semangat dan sukacita menyambut Yesus ditampakkan bukan hanya dalam cara penyambutan mereka, tapi juga bagaimana setelah Yesus masuk dalam rumah tersebut dan mereka masing-masing melakukan peran dan tanggung jawab mereka. Lazarus menemani Yesus ngobrol dan membagi pengalaman satu sama lain. Marta menyiapkan hidangan untuk perjamuan bagi mereka, sedangkan Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal nilainya. Kedatangan Yesus dalam rumah di tengah kekalutan, kecemasan dan kepanikan adalah sebuah pembebasan batiniah atas berbagai perasaan negatif yang lahir dalam diri serentak memberi pasokan energi rohaniah untuk menguatkan rasa solidaritas dan rasa saling mendukung satu sama lain sebagai satu keluarga.
Dalam refleksi saya, tidak ada yang harus ditakutkan ketika kita punya seseorang yang bisa diandalkan yang kepadanya kita menyerahkan seluruh kepercayaan dan harapan kita. Lazarus, Marta dan Maria meletakkan iman mereka pada Yesus, dan iman ketiganya pun menyatukan mereka bukan hanya secara fisik tapi juga secara emosional bersama Yesus.
Dalam situasi ketika virus corona, meneror seperti para Ahli taurat, Imam, dan orang Farisi meneror Lazarus, Maria dan Marta, kita semuanya pasti juga merasaka kepanikan, ketakutan dan kecemasan yang sama. Kita juga pastinya menjadi semakin takut, karena kita tidak punya kesempatan untuk datang mengunjungi Yesus dalam rumah ibadat, meminta kekuatan kepada-Nya di tengah situasi seperti ini.
Tapi kisah kunjungan Yesus kepada Lazarus, Maria dan Marta pada hari ini memberikan bukti sahih kepada kita bahwa Yesus dan kita terikat dalam perasaan yang sama. Yesus peduli dengan ketakutan kita. Yesus dan kita terikat dalam kerinduan akan pembebasan yang sama dari Allah. Sebuah pembebasan dari kuasa dosa, dan kuasa virus corona yang mengontrol hidup kita selama ini.
Mari menyambut Tuhan setiap hari dalam rumah dan hati kita. Dalam masa karantina spiritual, kita hendaknya bersatu dalam doa. Dalam doa, Tuhan Yesus hadir bersama kita. Kehadiran Yesus dalam keluarga tidak hanya dirasakan secara spiritual dalam doa tapi juga menyatukan kita dalam semangat untuk berjuang, saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain akan peran masing-masing dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.
Virus corona seringkali memunculkan bukan saja hal yang baik dari kita, tapi juga membantu melahirkan karakter buruk dalam diri kita. Maka, sebagai murid Yesus, kita seharusnya tidak membiarkan sisi buruk kita keluar. Kita karantinakan sisi buruk dan lakukan serta kembangkan hal baik dalam diri kita. Seperti ketiga bersaudara yang melayani Tuhan Yesus sesuai tugas dan peran mereka, mari kita juga dalam iman dan semangat kemanusiaan, melayani dan memberi dukungan satu sama lain sehingga kita dapat kuat dan tidak menyerah menghadapi situasi saat ini.
Semoga!
(Renungan Harian, Senin 06 April 2020)
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang datang mengunjungi rumah keluarga tiga bersaudara, Lazarus, Marta dan Maria. Yesus datang lagi ke rumah mereka, setelah mujizat luar biasa membangkitkan Lazarus dalam kisah injil sebelumnya.
Kisah dihidupkannya lagi Lazarus oleh Yesus, memantik kontroversi besar di seluruh wilayah, termasuk di Yerusalem. Cerita luar biasa ini sudah tersebar ke mana-mana, termasuk ke telinga Para Imam kepala dan orang-orang Farisi.
Setelah membangkitkan Lazarus, Yesus sebenarnya sudah tidak ingin tampil di depan umum lagi, di hadapan orang yahudi karena dia tahu Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi sudah merencanakan pembunuhan terhadap Dia dan memerintahkan bawahan mereka untuk menemukan Yesus dan menangkap Dia. Yesus lebih memilih berhati-hati dalam bertindak.
Akan tetapi, dalam situasi seperti ini, Yesus tidak sedikitpun gentar. Dia tetap datang mengunjungi keluarga tiga bersaudara ini. Dia mengetahui tindakan-Nya membangkitkan Lazarus juga membawa efek yang besar bagi keluarga Lazarus dan Marta dan Maria. Ketiganya pasti juga menjadi sasaran teror dari para Ahli taurat, para Imam dan orang Farisi, setelah mereka secara terbuka menerima Yesus dan membiarkan Yesus membangkitkan saudara mereka, Lazarus. Tindakan membiarkan Yesus melakukan mujizat, apalagi di hadapan banyak orang Yahudi adalah sebuah “pembangkangan religius serentak penolakan terhadap hukum taurat yang mana para Ahli taurat dan Imam kepala sudah ajarkan kepada mereka."
Dan apa yang terjadi, kunjungan Yesus untuk kedua kalinya membawa penghiburan, membawa sukacita dan kebahagian bagi mereka bertiga. Segala ketakutan, kecemasan dan kepanikan mereka dikalahkan dengan sukacita dan kebahagiaan yang dibawa Yesus. Mereka menyambut Yesus masuk ke dalam rumah dan hati mereka dengan penuh semangat.
Gambaran semangat dan sukacita menyambut Yesus ditampakkan bukan hanya dalam cara penyambutan mereka, tapi juga bagaimana setelah Yesus masuk dalam rumah tersebut dan mereka masing-masing melakukan peran dan tanggung jawab mereka. Lazarus menemani Yesus ngobrol dan membagi pengalaman satu sama lain. Marta menyiapkan hidangan untuk perjamuan bagi mereka, sedangkan Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal nilainya. Kedatangan Yesus dalam rumah di tengah kekalutan, kecemasan dan kepanikan adalah sebuah pembebasan batiniah atas berbagai perasaan negatif yang lahir dalam diri serentak memberi pasokan energi rohaniah untuk menguatkan rasa solidaritas dan rasa saling mendukung satu sama lain sebagai satu keluarga.
Dalam refleksi saya, tidak ada yang harus ditakutkan ketika kita punya seseorang yang bisa diandalkan yang kepadanya kita menyerahkan seluruh kepercayaan dan harapan kita. Lazarus, Marta dan Maria meletakkan iman mereka pada Yesus, dan iman ketiganya pun menyatukan mereka bukan hanya secara fisik tapi juga secara emosional bersama Yesus.
Dalam situasi ketika virus corona, meneror seperti para Ahli taurat, Imam, dan orang Farisi meneror Lazarus, Maria dan Marta, kita semuanya pasti juga merasaka kepanikan, ketakutan dan kecemasan yang sama. Kita juga pastinya menjadi semakin takut, karena kita tidak punya kesempatan untuk datang mengunjungi Yesus dalam rumah ibadat, meminta kekuatan kepada-Nya di tengah situasi seperti ini.
Tapi kisah kunjungan Yesus kepada Lazarus, Maria dan Marta pada hari ini memberikan bukti sahih kepada kita bahwa Yesus dan kita terikat dalam perasaan yang sama. Yesus peduli dengan ketakutan kita. Yesus dan kita terikat dalam kerinduan akan pembebasan yang sama dari Allah. Sebuah pembebasan dari kuasa dosa, dan kuasa virus corona yang mengontrol hidup kita selama ini.
Mari menyambut Tuhan setiap hari dalam rumah dan hati kita. Dalam masa karantina spiritual, kita hendaknya bersatu dalam doa. Dalam doa, Tuhan Yesus hadir bersama kita. Kehadiran Yesus dalam keluarga tidak hanya dirasakan secara spiritual dalam doa tapi juga menyatukan kita dalam semangat untuk berjuang, saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain akan peran masing-masing dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.
Virus corona seringkali memunculkan bukan saja hal yang baik dari kita, tapi juga membantu melahirkan karakter buruk dalam diri kita. Maka, sebagai murid Yesus, kita seharusnya tidak membiarkan sisi buruk kita keluar. Kita karantinakan sisi buruk dan lakukan serta kembangkan hal baik dalam diri kita. Seperti ketiga bersaudara yang melayani Tuhan Yesus sesuai tugas dan peran mereka, mari kita juga dalam iman dan semangat kemanusiaan, melayani dan memberi dukungan satu sama lain sehingga kita dapat kuat dan tidak menyerah menghadapi situasi saat ini.
Semoga!
*Rumah Pastoran Waibalun, 06 April 2020

Komentar
Posting Komentar