KEKUATAN DOA
KEKUATAN DOA
(Renungan Harian, Jumat 03 April 2020)
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
“Jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu”.
Hari ini saya membaca berita yang isinya tentang kabar gembira ini: “Setelah Bapa Suci paus Fransiskus membagikan berkat luar biasa Urbi et Orbi pada senja hari tanggal 27 Maret 2020 lalu, terdapat 1.434 pasien positif COVID-19 tercatat pada keesokan harinya, tanggal 28 maret 2020, sembuh di italia. Seperti yang kita ketahui, Italia adalah salah satu negara yang lumayan parah tingkat paparan virus Corona. Dan inilah angka kesembuhan tertinggi yang tercatat dalam sejarah Italia sejak negara itu terpapar corona sebulan lalu.
Setelah membaca berita ini saya sangat gembira dan optimis bahwa kita dapat secara bersama-sama memerangi virus corona ini. Kuasa Iman dan doa adalah salah satu senjata spiritual yang membantu kita dalam mengurangi bahkan menghindari serta memberikan kesembuhan kepada umat manusia. Kita juga percaya bahwa mujizat itu selalu nyata bagi orang yang tidak ragu akan kuasa Tuhan.
Sebelumnya saya mau kembali ke belakang, menceritakan pengalaman saya ketika berdebat di facebook dengan seorang “ateis”, yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, berapa jam setelah saya menonton live streaming adorasi dan berkat luar biasa Urbi et Orbi yang dipimpin langsung bapa Suci paus Fransiskus.
Apa yang memicu perdebatan kami adalah komentar teman ateis itu terhadap foto yang disebarkan oleh seorang teman lain, yang saya duga juga ateis, lengkap dengan caption yang bernada menyindir kegiatan doa bersama itu.
Perdebatan bertambah panas ketika kami berdua mulai saling balas berkomentar.
Dia mengatakan, kegiatan doa bersama yang dipimpin paus Fransiskus tidak membantu sama sekali, itu hanya sebuah narsisme religius yang tidak berguna. “Dari pada berdoa dan teriak tidak jelas kepada sesuatu yang tidak terlihat, lebih baik buat sesuatu yang nyata, bantu negara dengan uang yang kalian punya (Paus Fransiskus)". Saya yang agak sedikit kecewa dengan komentar itu, membalas komentarnya dengan mengatakan agar dia sedikit menghormati keyakinan iman kami. Tapi setelahnya dia membalas lebih buruk lagi dengan mengatakan bahwa agama katolik, tidak lebih dari sebuah agama yang pengikutnya mengidap sakit mental semua. Membaca balasannya saya cukup emosi, tapi saya tidak mau lagi melanjutkan perdebatan itu dan menutupnya dengan kata terima kasih dan mendoakan dia. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sudah dari awal menaruh prasangka buruk terhadap kita dan tidak menghargai serta menghormati kita.
Injil (Yoh. 10:31-42) melanjutkan perdebatan sengit yang menjurus cekcok yang tidak baku cocok antara Yesus dan orang Yahudi. Orang-orang Yahudi yang “panas” dengan Yesus hampir-hampir mau melempari Dia dengan batu-batu. Tapi dalam situasi tegang ini, Yesus tetap menyampaikan Kebenaran Bapa kepada orang-orang Yahudi itu. Yesus setia dengan iman dan tugas yang dipercayakan Bapa kepada-Nya walau situasi mengancam nyawa-Nya.
Orang yahudi tidak percaya Yesus sebagai Anak Allah. Mata hati mereka tertutup dan seperti teman-teman yang ateis dalam cerita tadi, mereka selalu melihat segala sesuatu secara negatif. Mereka mau melihat dan mendengarkan apa yang mereka mau lihat dan dengar. Dalam disposisi hati seperti ini, sulit sekali mereka percaya kepada Yesus dan mujizat doa dan penyembuhan dari Yesus dalam hidup mereka.
Saat ini banyak dari kita juga yang percaya tapi kurang berdoa dan pesismis dengan daya doa bagi hidup kita. Apalagi di tengah pandemi Corona yang menjauhkan kita dari Gereja dan menguji iman kita kepada Tuhan seperti ini, sering keluar kalimat yang mengatakan bahwa doa itu tidak cukup atau ini virus tidak bisa hilang hanya dengan doa saja. Dengan mengatakan seperti itu, kita sebenarnya membiarkan diri kita untuk jauh dari Tuhan dan memilih dengan tahu dan mau untuk menutup mata dan hati kita untuk menyaksikan mujizat penyembuhan Tuhan bagi hidup. Doa tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan menyembuhkan virus corona yang ganas ini.
Tuhan yesus dalam injil mengatakan, “Kalau kalian tidak percaya Saya sebagai Allah, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam bapa, maka paling tidak kalian mesti percaya akan pekerjaan-pekerjaan itu”. Pekerjaan-pekerjaan yang dimaksudkan Yesus merujuk pada mujizat-mujizat doa penyembuhan yang dilakukan-Nya. Kalimat ini penting untuk kita renungkan di tengah pandemi corona yang sering kali juga menggoda kita untuk tidak percaya pada Tuhan dan pada kekuatan doa.
Kenapa kalimat ini penting? Bagi saya kalimat ini tidak hanya penting tapi sangat penting, karena di tengah konteks virus Corona, Yesus mau menggaungkan serentak menegaskan kepada kita untuk bertekun dalam doa. Doa adalah sarana kita mendekatkan diri kepada-Nya. Doa adalah ungkapan kelemahan dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Kita mesti berdoa karena doa punya dua dimensi, yakni dimensi vertikal dan horisontal.
Terkait dimensi vertikal, melalui doa kita dibantu untuk fokus belajar dari Yesus untuk menerima dengan tenang penderitaan yang kita alami. Lalu dalam dimensi horisontal, apa yang kita pelajari dari Yesus menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk mempercayai manusia, sesama kita untuk bersama dalam semangat solidaritas dan rasa kemanusiaan berusaha menghadapi penderitaan yang sama. Kekuatan doa memberi energi bagi batin bagi kita untuk hidup berdampingan, percaya dan menghargai satu sama lain dalam usaha menemukan solusi yang lebih manusiawi dalam menghadapi teror virus yang tidak memandang latar belakang orang ini.
Francesco Beschi, Uskup dari Bergamo, punya satu ungkapan yang hebat tentang doa. Baginya, doa-doa kita bukanlah rumus ajaib. Iman akan Allah tidak secara ajaib menyelesaikan masalah-masalah kita, tetapi iman akan Allah memberi kita kekuatan batin untuk menghadapi semua masalah dalam hidup.
Doa bersama bapa Suci Paus Fransiskus di tengah wabah Corona memang bukan satu-satunya solusi untuk menyembuhkan pun menghilangkan pandemi Corona ini, tapi dari kesaksian doa yang dilantukan dalam keheningan sore senja itu, doa dalam iman yang sungguh-sungguh mengikat solidaritas bersama, menghidupkan energi positif dalam setiap orang, menghardik ketakutan kita, serta memberikan optimisme di tengah kekalutan dan kepanikkan kita.
Doa yang memberikan kekuatan batin menghalau ketakutan dan pesimisme, ia membantu tubuh kita meningkatkan sistem imun. Doa adalah benteng yang kuat untuk menyembuhkan sekaligus melawan virus corona.
Jika kita tidak mempercayai sesuatu yang agama kita namai Tuhan itu, paling tidak nurani kita mesti tergugah ketika ada peristiwa ajaib dalam hidup kita yang bekerja untuk kebaikan dengan kekuatan luar bisa di luar kendali kita. Ada kuat kuasa yang kita tidak bisa lihat tapi hanya rasakan, kuasa yang lebih besar dari kita, yang padanya kita tidak bisa berpaling selain dari pada percaya dan berharap. Semoga.
Amin!!!
(Renungan Harian, Jumat 03 April 2020)
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
“Jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu”.
Hari ini saya membaca berita yang isinya tentang kabar gembira ini: “Setelah Bapa Suci paus Fransiskus membagikan berkat luar biasa Urbi et Orbi pada senja hari tanggal 27 Maret 2020 lalu, terdapat 1.434 pasien positif COVID-19 tercatat pada keesokan harinya, tanggal 28 maret 2020, sembuh di italia. Seperti yang kita ketahui, Italia adalah salah satu negara yang lumayan parah tingkat paparan virus Corona. Dan inilah angka kesembuhan tertinggi yang tercatat dalam sejarah Italia sejak negara itu terpapar corona sebulan lalu.
Setelah membaca berita ini saya sangat gembira dan optimis bahwa kita dapat secara bersama-sama memerangi virus corona ini. Kuasa Iman dan doa adalah salah satu senjata spiritual yang membantu kita dalam mengurangi bahkan menghindari serta memberikan kesembuhan kepada umat manusia. Kita juga percaya bahwa mujizat itu selalu nyata bagi orang yang tidak ragu akan kuasa Tuhan.
Sebelumnya saya mau kembali ke belakang, menceritakan pengalaman saya ketika berdebat di facebook dengan seorang “ateis”, yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, berapa jam setelah saya menonton live streaming adorasi dan berkat luar biasa Urbi et Orbi yang dipimpin langsung bapa Suci paus Fransiskus.
Apa yang memicu perdebatan kami adalah komentar teman ateis itu terhadap foto yang disebarkan oleh seorang teman lain, yang saya duga juga ateis, lengkap dengan caption yang bernada menyindir kegiatan doa bersama itu.
Perdebatan bertambah panas ketika kami berdua mulai saling balas berkomentar.
Dia mengatakan, kegiatan doa bersama yang dipimpin paus Fransiskus tidak membantu sama sekali, itu hanya sebuah narsisme religius yang tidak berguna. “Dari pada berdoa dan teriak tidak jelas kepada sesuatu yang tidak terlihat, lebih baik buat sesuatu yang nyata, bantu negara dengan uang yang kalian punya (Paus Fransiskus)". Saya yang agak sedikit kecewa dengan komentar itu, membalas komentarnya dengan mengatakan agar dia sedikit menghormati keyakinan iman kami. Tapi setelahnya dia membalas lebih buruk lagi dengan mengatakan bahwa agama katolik, tidak lebih dari sebuah agama yang pengikutnya mengidap sakit mental semua. Membaca balasannya saya cukup emosi, tapi saya tidak mau lagi melanjutkan perdebatan itu dan menutupnya dengan kata terima kasih dan mendoakan dia. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sudah dari awal menaruh prasangka buruk terhadap kita dan tidak menghargai serta menghormati kita.
Injil (Yoh. 10:31-42) melanjutkan perdebatan sengit yang menjurus cekcok yang tidak baku cocok antara Yesus dan orang Yahudi. Orang-orang Yahudi yang “panas” dengan Yesus hampir-hampir mau melempari Dia dengan batu-batu. Tapi dalam situasi tegang ini, Yesus tetap menyampaikan Kebenaran Bapa kepada orang-orang Yahudi itu. Yesus setia dengan iman dan tugas yang dipercayakan Bapa kepada-Nya walau situasi mengancam nyawa-Nya.
Orang yahudi tidak percaya Yesus sebagai Anak Allah. Mata hati mereka tertutup dan seperti teman-teman yang ateis dalam cerita tadi, mereka selalu melihat segala sesuatu secara negatif. Mereka mau melihat dan mendengarkan apa yang mereka mau lihat dan dengar. Dalam disposisi hati seperti ini, sulit sekali mereka percaya kepada Yesus dan mujizat doa dan penyembuhan dari Yesus dalam hidup mereka.
Saat ini banyak dari kita juga yang percaya tapi kurang berdoa dan pesismis dengan daya doa bagi hidup kita. Apalagi di tengah pandemi Corona yang menjauhkan kita dari Gereja dan menguji iman kita kepada Tuhan seperti ini, sering keluar kalimat yang mengatakan bahwa doa itu tidak cukup atau ini virus tidak bisa hilang hanya dengan doa saja. Dengan mengatakan seperti itu, kita sebenarnya membiarkan diri kita untuk jauh dari Tuhan dan memilih dengan tahu dan mau untuk menutup mata dan hati kita untuk menyaksikan mujizat penyembuhan Tuhan bagi hidup. Doa tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan menyembuhkan virus corona yang ganas ini.
Tuhan yesus dalam injil mengatakan, “Kalau kalian tidak percaya Saya sebagai Allah, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam bapa, maka paling tidak kalian mesti percaya akan pekerjaan-pekerjaan itu”. Pekerjaan-pekerjaan yang dimaksudkan Yesus merujuk pada mujizat-mujizat doa penyembuhan yang dilakukan-Nya. Kalimat ini penting untuk kita renungkan di tengah pandemi corona yang sering kali juga menggoda kita untuk tidak percaya pada Tuhan dan pada kekuatan doa.
Kenapa kalimat ini penting? Bagi saya kalimat ini tidak hanya penting tapi sangat penting, karena di tengah konteks virus Corona, Yesus mau menggaungkan serentak menegaskan kepada kita untuk bertekun dalam doa. Doa adalah sarana kita mendekatkan diri kepada-Nya. Doa adalah ungkapan kelemahan dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Kita mesti berdoa karena doa punya dua dimensi, yakni dimensi vertikal dan horisontal.
Terkait dimensi vertikal, melalui doa kita dibantu untuk fokus belajar dari Yesus untuk menerima dengan tenang penderitaan yang kita alami. Lalu dalam dimensi horisontal, apa yang kita pelajari dari Yesus menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk mempercayai manusia, sesama kita untuk bersama dalam semangat solidaritas dan rasa kemanusiaan berusaha menghadapi penderitaan yang sama. Kekuatan doa memberi energi bagi batin bagi kita untuk hidup berdampingan, percaya dan menghargai satu sama lain dalam usaha menemukan solusi yang lebih manusiawi dalam menghadapi teror virus yang tidak memandang latar belakang orang ini.
Francesco Beschi, Uskup dari Bergamo, punya satu ungkapan yang hebat tentang doa. Baginya, doa-doa kita bukanlah rumus ajaib. Iman akan Allah tidak secara ajaib menyelesaikan masalah-masalah kita, tetapi iman akan Allah memberi kita kekuatan batin untuk menghadapi semua masalah dalam hidup.
Doa bersama bapa Suci Paus Fransiskus di tengah wabah Corona memang bukan satu-satunya solusi untuk menyembuhkan pun menghilangkan pandemi Corona ini, tapi dari kesaksian doa yang dilantukan dalam keheningan sore senja itu, doa dalam iman yang sungguh-sungguh mengikat solidaritas bersama, menghidupkan energi positif dalam setiap orang, menghardik ketakutan kita, serta memberikan optimisme di tengah kekalutan dan kepanikkan kita.
Doa yang memberikan kekuatan batin menghalau ketakutan dan pesimisme, ia membantu tubuh kita meningkatkan sistem imun. Doa adalah benteng yang kuat untuk menyembuhkan sekaligus melawan virus corona.
Jika kita tidak mempercayai sesuatu yang agama kita namai Tuhan itu, paling tidak nurani kita mesti tergugah ketika ada peristiwa ajaib dalam hidup kita yang bekerja untuk kebaikan dengan kekuatan luar bisa di luar kendali kita. Ada kuat kuasa yang kita tidak bisa lihat tapi hanya rasakan, kuasa yang lebih besar dari kita, yang padanya kita tidak bisa berpaling selain dari pada percaya dan berharap. Semoga.
Amin!!!
*Rumah Pastoran Waibalun, 03 April 2020

Komentar
Posting Komentar