JANGAN MEN-STIGMA SESAMA

JANGAN MEN-STIGMA SESAMA
(Renungan Harian, Kamis 02 April 2020 - Yohanes 8:51-59)


Oleh P. Erik Ebot, SVD*

Dalam Injil hari ini sekali lagi Yesus kembali bersoal jawab dengan orang-orang yahudi. Yesus baru keluarkan satu kalimat ini: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya”. Dan respon dari orang yahudi begitu panjang dan sungguh tidak mengenakkan. Mereka menuduh Yesus sesat, kerasukan setan dan melakukan penghinaan keji terhadap bapa Abraham, seorang yang mereka sungguh hormati. Tuduhan ini adalah sebuah penolakan, stigma yang kejam dan keji yang mereka berikan kepada Yesus.

Padahal, Yesus mengungkapkan kebenaran Allah kepada Mereka. Namun penolakan dan stigma terhadap Yesus membuat mata dan hati mereka buta melihat kebenaran itu. Stigma dan penolakan terhadap Yesus semakin menguat, karena dalam pandangan mereka, Yesus datang menghancurkan hukum taurat dan mengganggu kenyamanan hidup mereka.

Meluasnya virus Corona juga meluaskan perasaan ketakutan dan kecemasan. Tidak hanya itu, dalam kehidupan harian kita, tidak kurang kita juga sering menjadi aktor yang melakukan stigma dan penolakan terhadap sama saudara/i kita yang baru datang dari luar kampung masuk ke kampung kita. Sesungguhnya bahwa saudara atau saudari kita ini ingin pulang ke rumah bertemu keluarga setelah sekian lama merantau.

Mereka ini juga mau tidak mau harus pulang karena tidak ada pilihan lain, setelah di kota besar mereka sudah tidak bisa mendapatkan uang karena usaha mereka harus tutup atau karena mereka sudah tidak nyaman lagi. Dan ketika mereka pulang kita melarang mereka masuk kampung dan membuat label bahwa mereka pembawa virus corona. Sesungguhnya tindakan ini tidak sedap untuk dirasakan dan sangat melukai hati kita sebagai sesama manusia. Kita seolah memberi beban double kepada mereka.

Sama saudara-saudari kita ini persis seperti Yesus yang distigma oleh orang Yahudi pada kisah injil hari ini. Mereka adalah sesama kita, orang sekampung dengan kita, yang seharusnya didengarkan dan diperlakukan serta diterima dengan baik. Terhadap mereka ini, tidak seharusnya kita menghakimi bahkan menilai mereka secara seenaknya apalagi klaim atau label mereka sebagai pembawa virus corona. Kita tidak berhak untuk menilai sebelum mereka yang ahli seperti dokter memeriksa bahwa mereka termasuk pasien corona atau orang dalam pengawasan (ODP).

Kita tidak boleh menstigma atau membuat label yang buruk terhadap orang lain, karena tindakan kita itu, tidak lalu membuat kita lebih baik. Yang kita lakukan sebagai orang beriman adalah lebih banyak memahami dan menerima sebagai sesama manusia yang juga sama-sama menginginkan virus corona ini segera berlalu dari bumi kita ini. Corona sudah menjauhkan kita dari sesama kita, tapi kita jangan menjauhkan diri kita dari sesama kita. Karena hanya dengan berjuang bersama, saling mendukung dan membantu serta berdoa kita bisa selamat dan niscaya keluar dari situasi saat ini.

Amin!!!


*Rumah Pastoran Waibalun, 02 April 2020



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN

MELIHAT DENGAN MATA IMAN

GEREJA HATI