JAGA JARAK, JAGA KEMANUSIAAN!
Jaga Jarak, Jaga Kemanusiaan!
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Hari ini kita mendengarkan kelanjutan kisah dua murid Emaus yang kembali ke Yerusalem. Pasca penampakan Yesus yang mereka alami di jalan, kedua murid ini tergerak hati dan pikirannya untuk memutar haluan kembali ke jalur panggilan mereka, ke Yerusalem. Mata iman mereka memberi energi bagi seluruh badan untuk mendorong mereka kembali ke komunitas para murid.
Di dalam rumah di Yerusalem, dalam situasi yang masih diliputi rasa takut, dua murid emaus mengisahkan pengalaman yang mereka alami ketika bertemu dengan Yesus. Sudah pasti ada perasaan gembira tapi sudah pasti pula ada keragu-raguan muncul di antara mereka. Perasaan mereka campur aduk.
Dalam situasi campur aduk seperti itu, tiba-tiba saja Yesus datang di tengah-tengah mereka. Dijelaskan dalam injil, para murid yang sudah diliputi perasaan campur aduk, terkejut dan takut menyangka bahwa mereka melihat hantu. Menyadari reaksi para murid ini, Yesus lantas bertanya: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hatimu?"
Yesus menjadi terasing dan sulit dikenal para murid yang dahulu selalu ada bersama mereka menulis kisah indah dan kenangan bersama. Menjadi semakin sulit dipahami perihal kelambanan hati para murid untuk percaya, padahal sudah berapa kali juga Yesus menampakkan diri ke hadapan beberapa orang setelah kebangkitan. Karena itu, Yesus membantu mereka untuk percaya dan mengeluarkan mereka dari situasi kebingungan itu. Ia memberi bukti bahwa Dialah Yesus saudara mereka, bukan hantu yang ditakuti. Dialah Yesus yang dinubuatkan para nabi untuk menderita sengsara, disalibkan lalu bangkit pada hari ketiga. Inilah Yesus, Guru dan sahabat mereka. Setelah Yesus menjelaskan serta membuka pikiran para murid, mereka lalu percaya.
***
Ketakutan berlebihan, ketidaktahuan, ragu-ragu dan keengganan untuk percaya seringkali membuat kita sulit untuk menerima kenyataan objektif yang ada di depan mata. Karena itu kita mudah sekali jatuh dalam sentimen pribadi, meyakini yang paling benar dari semuanya adalah keyakinan objektif kita, apa yang kita rasakan. Disposisi batin seperti ini membuat kita sulit untuk mengakui kehadiran dan kebenaran orang lain. Dalam situasi seperti ini, kita sulit bersolider, merasakan apa yang orang lain rasakan. Bahkan paling parah kita menjadi manusia yang begitu kejam terhadap saudara-saudari kita. Kita mengabaikan mereka dan menolak kehadiran mereka dalam hidup kita. Pengalaman ada bersama tidak lebih sebagai kumpulan angka, bukan deretan momen yang mengikat persaudaraan dan menguatkan persatuan dalam ungkapan sepenanggung, satu rasa dan satu perjuangan.
Klaim para murid ketika tidak percaya dan melihat Yesus yang datang ke dalam rumah sebagai hantu, saya kira kita bisa endus dalam kehidupan konkret saat ini. Jenazah covid-19 ada yang ditolak saat hendak di makamkan. Stigma sosial atau penolakan terhadap sama saudara, seagama, sebangsa, sekampung, serumah bahkan adalah situasi nyata ketika kita melihat sesama sebagai hantu yang harus ditakuti dan di tolak. Dalam situasi seperti ini, kita sebagai warga seiman, sekampung, sedaerah yang seharusnya mampu bersikap wajar, menerima dan memberi dukungan kepada mereka, malahan menunjukkan rasa kuatir yang berlebihan.
Takut dan kuatir dengar covid-19 yang membahayakan kesehatan kita itu wajar. Akan tetapi ketakutan kita tidak seharusnya membuat mata hati dan iman kita tertutup untuk mengenali saudara kita yang pulang dari perantauan, untuk menyadari bahwa orang-orang yang ODP, PDP atau yang sudah positif covid-19 itu sebenarnya lebih butuh dukungan kita dari pada penolakan kita.
Pada hari ini, Yesus, walau sudah diklaim hantu oleh para murid yang dikenal-Nya, dengan besar hati membuka pikiran para murid, sehingga kemudian mereka mengerti dan menerima Yesus dalam hidup mereka.
Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa para perantau yang harus pulang ke kampung dalam situasi serba susah dan sulit itu bukan saja saudara kita dalam ikatan apa saja, tapi juga adalah penampakan Wajah Yesus. Mereka memang sudah ada yang sudah positif covid-19 dan sebagaian menjadi ODP dan PDP.
Situasi yang mereka hadapi membuat ketakutan kita menjadi wajar. Tapi seperti Yesus yang membuka pikiran dan hati para murid untuk mengenal Dia, bukan sebagai hantu tapi sebagai Penyelamat. Sesama saudara-saudari kita ini juga adalah mereka yang dalam cara yang sulit, menyelamatkan kita. Kehadiran mereka seharusnya tidak kita respon dengan menghantunisasikan mereka, yang kemudian membuat kita menolak mereka dengan kasar atau kata-kata yang tidak sopan.
Kehadiran mereka adalah peringatan yang membuat kita lebih paham tentang karakter penyebaran covid-19. Dengan mengetahui secara baik karakterisasi covid-19, kita bisa jadi lebih waspada, lebih bijaksana, lebih hati-hati dan lebih tertib dalam kehidupan. Penyebaran covid-19 akan terputus bukan dengan menolak mereka, tapi memahami situasi mereka, beban hidup mereka serta juga mendukung mereka dengan empati dan bela rasa sebisa kita. Dalam momen ini, semangat kebangkitan menjadi energi yang seharusnya menonjolkan kemanusiaan kita.
Covid-19 sudah ada di depan mata. Menolak sama saudara kita tidak menyelesaikan persoalan, tidak pula membawa dampak apa-apa untuk kita. Sebagai sesama saudara sebangsa, sedaerah, sekampung dan yang paling penting sesama manusia, kita tidak hanya memberikan dukungan moril melalui doa tapi juga yang paling utama kita tidak menolak mereka, tidak menstigma mereka. Karena alasannya bahwa kita tidak akan pernah tahu dan sadar betapa dashyatnya kehancuran dan ambaruknya mental seseorang ketika dengan membabi-buta kita menolak mereka, apalagi mereka yang sudah sementara direnggut dan dikikis mentalnya habis-habisan oleh corona yang tak mau tahu itu.
Maka, apa yang menjadi pesan Mata Najwa semalam menjadi penting: "JAGA JARAK tapi yang paling penting juga adalah JAGA KEMANUSIAAN."
Semoga!
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Hari ini kita mendengarkan kelanjutan kisah dua murid Emaus yang kembali ke Yerusalem. Pasca penampakan Yesus yang mereka alami di jalan, kedua murid ini tergerak hati dan pikirannya untuk memutar haluan kembali ke jalur panggilan mereka, ke Yerusalem. Mata iman mereka memberi energi bagi seluruh badan untuk mendorong mereka kembali ke komunitas para murid.
Di dalam rumah di Yerusalem, dalam situasi yang masih diliputi rasa takut, dua murid emaus mengisahkan pengalaman yang mereka alami ketika bertemu dengan Yesus. Sudah pasti ada perasaan gembira tapi sudah pasti pula ada keragu-raguan muncul di antara mereka. Perasaan mereka campur aduk.
Dalam situasi campur aduk seperti itu, tiba-tiba saja Yesus datang di tengah-tengah mereka. Dijelaskan dalam injil, para murid yang sudah diliputi perasaan campur aduk, terkejut dan takut menyangka bahwa mereka melihat hantu. Menyadari reaksi para murid ini, Yesus lantas bertanya: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hatimu?"
Yesus menjadi terasing dan sulit dikenal para murid yang dahulu selalu ada bersama mereka menulis kisah indah dan kenangan bersama. Menjadi semakin sulit dipahami perihal kelambanan hati para murid untuk percaya, padahal sudah berapa kali juga Yesus menampakkan diri ke hadapan beberapa orang setelah kebangkitan. Karena itu, Yesus membantu mereka untuk percaya dan mengeluarkan mereka dari situasi kebingungan itu. Ia memberi bukti bahwa Dialah Yesus saudara mereka, bukan hantu yang ditakuti. Dialah Yesus yang dinubuatkan para nabi untuk menderita sengsara, disalibkan lalu bangkit pada hari ketiga. Inilah Yesus, Guru dan sahabat mereka. Setelah Yesus menjelaskan serta membuka pikiran para murid, mereka lalu percaya.
***
Ketakutan berlebihan, ketidaktahuan, ragu-ragu dan keengganan untuk percaya seringkali membuat kita sulit untuk menerima kenyataan objektif yang ada di depan mata. Karena itu kita mudah sekali jatuh dalam sentimen pribadi, meyakini yang paling benar dari semuanya adalah keyakinan objektif kita, apa yang kita rasakan. Disposisi batin seperti ini membuat kita sulit untuk mengakui kehadiran dan kebenaran orang lain. Dalam situasi seperti ini, kita sulit bersolider, merasakan apa yang orang lain rasakan. Bahkan paling parah kita menjadi manusia yang begitu kejam terhadap saudara-saudari kita. Kita mengabaikan mereka dan menolak kehadiran mereka dalam hidup kita. Pengalaman ada bersama tidak lebih sebagai kumpulan angka, bukan deretan momen yang mengikat persaudaraan dan menguatkan persatuan dalam ungkapan sepenanggung, satu rasa dan satu perjuangan.
Klaim para murid ketika tidak percaya dan melihat Yesus yang datang ke dalam rumah sebagai hantu, saya kira kita bisa endus dalam kehidupan konkret saat ini. Jenazah covid-19 ada yang ditolak saat hendak di makamkan. Stigma sosial atau penolakan terhadap sama saudara, seagama, sebangsa, sekampung, serumah bahkan adalah situasi nyata ketika kita melihat sesama sebagai hantu yang harus ditakuti dan di tolak. Dalam situasi seperti ini, kita sebagai warga seiman, sekampung, sedaerah yang seharusnya mampu bersikap wajar, menerima dan memberi dukungan kepada mereka, malahan menunjukkan rasa kuatir yang berlebihan.
Takut dan kuatir dengar covid-19 yang membahayakan kesehatan kita itu wajar. Akan tetapi ketakutan kita tidak seharusnya membuat mata hati dan iman kita tertutup untuk mengenali saudara kita yang pulang dari perantauan, untuk menyadari bahwa orang-orang yang ODP, PDP atau yang sudah positif covid-19 itu sebenarnya lebih butuh dukungan kita dari pada penolakan kita.
Pada hari ini, Yesus, walau sudah diklaim hantu oleh para murid yang dikenal-Nya, dengan besar hati membuka pikiran para murid, sehingga kemudian mereka mengerti dan menerima Yesus dalam hidup mereka.
Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa para perantau yang harus pulang ke kampung dalam situasi serba susah dan sulit itu bukan saja saudara kita dalam ikatan apa saja, tapi juga adalah penampakan Wajah Yesus. Mereka memang sudah ada yang sudah positif covid-19 dan sebagaian menjadi ODP dan PDP.
Situasi yang mereka hadapi membuat ketakutan kita menjadi wajar. Tapi seperti Yesus yang membuka pikiran dan hati para murid untuk mengenal Dia, bukan sebagai hantu tapi sebagai Penyelamat. Sesama saudara-saudari kita ini juga adalah mereka yang dalam cara yang sulit, menyelamatkan kita. Kehadiran mereka seharusnya tidak kita respon dengan menghantunisasikan mereka, yang kemudian membuat kita menolak mereka dengan kasar atau kata-kata yang tidak sopan.
Kehadiran mereka adalah peringatan yang membuat kita lebih paham tentang karakter penyebaran covid-19. Dengan mengetahui secara baik karakterisasi covid-19, kita bisa jadi lebih waspada, lebih bijaksana, lebih hati-hati dan lebih tertib dalam kehidupan. Penyebaran covid-19 akan terputus bukan dengan menolak mereka, tapi memahami situasi mereka, beban hidup mereka serta juga mendukung mereka dengan empati dan bela rasa sebisa kita. Dalam momen ini, semangat kebangkitan menjadi energi yang seharusnya menonjolkan kemanusiaan kita.
Covid-19 sudah ada di depan mata. Menolak sama saudara kita tidak menyelesaikan persoalan, tidak pula membawa dampak apa-apa untuk kita. Sebagai sesama saudara sebangsa, sedaerah, sekampung dan yang paling penting sesama manusia, kita tidak hanya memberikan dukungan moril melalui doa tapi juga yang paling utama kita tidak menolak mereka, tidak menstigma mereka. Karena alasannya bahwa kita tidak akan pernah tahu dan sadar betapa dashyatnya kehancuran dan ambaruknya mental seseorang ketika dengan membabi-buta kita menolak mereka, apalagi mereka yang sudah sementara direnggut dan dikikis mentalnya habis-habisan oleh corona yang tak mau tahu itu.
Maka, apa yang menjadi pesan Mata Najwa semalam menjadi penting: "JAGA JARAK tapi yang paling penting juga adalah JAGA KEMANUSIAAN."
Semoga!
*Rumah Pastoran Waibalun, 16 April 2020

Komentar
Posting Komentar