JADILAH PEMBERI PESAN POSITIF

JADILAH PEMBERI PESAN POSITIF
(Renungan Harian - Sabtu, 04 April 2020)


Oleh P. Erik Ebot, SVD*


Di media sosial pun di WA grup kita banyak temukan berita seputar virus corona. Berita-berita ini ada yang benar tapi ada yang asal-asalan alias hoaks. Berita-berita hoax berseliweran hampir tidak terkontrol.

Situs covid19.go.id merupakan salah satu usaha menangkal infodemik. Infodemik adalah gelombang informasi berlebihan tentang suatu masalah, yang kemudian menyulitkan identifikasi solusinya. Per 27 Maret 2020 sudah terdapat 188 hoaks yang berhasil ditangkal. Meski realitanya seperti fenomena gunung es, hoaks terkait corona masih juga mewabah di berbagai media sosial dan aplikasi perpesanan. Masih banyak pihak-pihak yang jarinya lebih lincah dari nalar yang membagikan informasi nir-verifikasi. Keberadaan hoaks sangat menghambat usaha bersama, pemerintah dan kita semua untuk memerangi virus corona.

Alasannya, karena tersebarnya berita hoaks tentang corona memunculkan ketakutan berlebihan dalam kehidupan masyarakat. Ketakutan yang dimunculkan hoaks seperti ini memberi beban psikologis yang besar kepada masyarakat, sehingga turut melemahkan usaha kita bersama untuk mengatasi pun mengurangi penyebaran virus corona ini.

Menelusuri kisah injil hari ini, hoaks turut menjadi senjata orang Yahudi, khususnya orang Farisi untuk menyingkirkan Yesus. Injil Yohanes 11:45-56 kembali melaporkan semakin panasnya perselisihan antara Yesus dan orang Yahudi. Mereka yang turut menyaksikan mujizat Yesus terhadap Lazarus dalam kisah sebelumnya, datang kepada orang Farisi dengan marahnya melaporkan kejadian itu. Orang Farisi yang memang tidak simpatik dengan Yesus lalu geram dan marah terhadap tindakan Yesus ini. Mereka merasa Yesus sudah merenggut popularitas mereka di mata orang banyak.

Karena tidak mau popularitas Yesus semakin naik, mereka lalu merancang skenario untuk menyingkirkan Dia. Dan untuk kepentingan ini, mereka memprovokasi Mahkamah Agama agar menyeret Yesus ke pengadilan untuk dihukum. Tindakan provokasi oleh orang-orang Farisi ini dilakukan dengan menyebarkan informasi yang tidak benar tentang Yesus.

Mereka melaporkan tindakan Yesus berdasarkan versi dan kepentingan mereka. Semua tentang Yesus itu buruk. Mereka tidak melaporkan hal-hal baik yang Yesus sudah lakukan terhadap banyak orang Yahudi. Dengan membuat hoax tentang Yesus, mereka yakin Mahkamah Agama bisa percaya dan selanjutnya menghukum Yesus. Dan memang pada akhirnya, Yesus juga dihukum mati.

Tujuan dari hoax adalah memprovokasi massa untuk tidak percaya dengan kebenaran objektif, dan mendorong massa percaya pada keyakinan-keyakinan yang bersifat subjektif. Selain itu, hoax sengaja diciptakan untuk membuat kegaduhan sehingga orang tidak fokus lagi untuk membicarakan solusi untuk suatu masalah, tapi malahan memicu masalah baru. Sehingga hoax pada akhirnya memantik kegaduhan dan keresahan sosial.

Dalam konteks masalah virus corona, beberapa tindakan penolakan dan stigma yang terjadi terhadap sesama saudara kita di beberapa wilayah di Indonesia dan juga wilayah kita, terjadi karena kita sudah termakan hoaks atau informasi yang tidak benar yang sudah terlanjur menyebar. Keyakinan kita tersugesti dan kita lalu percaya dengan kabar burung yang herannya kita juga tidak tahu sumber siapa penutur dari kabar itu. Dan umumnya, tanpa konfirmasi atau meng-verifikasi kebenaran kabar itu, dengan percaya dirinya, kita melancarkan tindakan penolakan terhadap sesama kita. Sungguh sangat disayangkan, bayaran dari tindakan kita itu terhadap sesama kita.

Di zaman yang para pemikir bilang post truth atau zaman pasca kebenaran ini, banyak orang berbakat untuk ciptakan hoaks. Tujuannya satu, mereka berusaha untuk membenturkan dan menciptakan konflik di antara sesama kita yang sudah hidup aman dan damai di satu daerah. Kepentingan mereka sesempit itu dan mereka akan merasa puas kalau apa yang menjadi tujuan mereka terjadi dalam kenyataan.

Karena itu, agar konflik yang sama-sama kita tidak inginkan terjadi dan perang lawan corona bisa kita menangi, mari kita bijaksana dalam menilai sebuah pesan, berita dsbnya. Sebelum kita menyebarkan berita di facebook atau di grup WA, pastikan dahulu bahwa berita yang kita ingin sebarkan itu bukan hoaks, bukan berita yang memicu masalah. Atau dalam konteks masalah virus corona saat ini, berita yang kita share-kan itu tidak membuat sesama kita tambah takut, panik dan cemas.

Perbanyakanlah membaca dan sebarkan berita yang positif dan terpercaya tentang virus corona. Selain itu, jadilah pemberi pesan-pesan yang selalu membangkikan optimisme yang akan membantu kita yakin dan percaya dapat mengatasi atau mengindari diri kita dari serangan virus Corona ini. Semoga...

Amin!!!


*Rumah Pastoran Waibalun, 04 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN

MELIHAT DENGAN MATA IMAN

GEREJA HATI