IMAN DAN SIKAP BIJAKSANA
Iman dan Sikap Bijaksana
(Renungan harian, Rabu 08 April 2020)
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Kisah injil hari ini, dari injil Yohanes secara khusus menyorot pengkhianatan Yudas, salah satu murid Yesus yang dia pilih sendiri. Yohanes menggambarkan secara detil kisah pertemuan Yudas dengan para Imam kepala.
Kompromi dan tawar menawar dilakukan. Iman Yudas kepada Yesus dan juga relasi pribadinya digadaikan dengan uang tiga puluh perak. Deal terjadi. Tinggal tunggu waktu saja bagi Yudas untuk menyerahkan orang yang begitu lama berada dekat bersamanya.
Yohanes juga menggambarkan kepada kita kisah lain yang juga masih berhubungan dengan Yudas. Kali ini di meja perjamuan. Yesus berada bersama para Murid untuk makan bersama. Yesus yang tahu segala sesuatu itu, membuat mood perjamuan bersama jadi tegang.
Dia membuka percakapan dengan kalimat ini: “Di antara kamu ada yang akan menyerahkan Saya dengan tahu dan mau.” Sontak saja, para Murid yang kebingungan mulai saling menatap satu sama lain. Ada yang inisiatif untuk bertanya: “Bukan aku ya Tuhan”, sambil berharap dapat konfirmasi bahwa memang bukan dia yang menyerahkan Yesus. Murid yang lain diam seribu bahasa dengan perasaan takut, diam, penuh curiga.
Yang menarik bahwa Yudas juga menjadi satu orang yang bertanya, “Bukan aku ya Rabi?" Sebelum Yudas bertanya, Yesus sebenarnya sudah mewanti-wanti Yudas untuk menimbang-nimbang keputusannya kembali. Hanya saja deal sudah terjadi. Yudas sudah dengan tahu dan mau menolak untuk berpihak kepada Yesus. Sehingga dalam situasi seperti ini, sulit bagi Yudas mengontrol Iblis yang sudah menguasainya.
Iman kepada Yesus sulit mengubah pilihan sikap, ketika Yudas mau cari aman dan nyaman untuk kepentingan pribadi. Kita bisa baca pilihan sikap Yudas. Di satu sisi itu adalah naluri kemanusiaan yang normal ketika ancaman dan ketakutan sudah diambang pintu. Tapi sayangnya bahwa ketika Yesus memperingati Dia, Yudas dengan tahu dan mau memilih untuk tidak kehilangan muka dan tidak mengoreksi kembali keputusannya untuk menyerahkan Yesus.
Di tengah penyebaran virus corona yang tidak putus ini, tak bisa disangkal bahwa kita berubah menjadi manusia yang mudah takut, mudah cemas, mudah panik. Biasanya dalam situasi seperti ini, ketakutan bukan kebijaksanaan banyak kali menjadi sumber atau dasar bagi kita mengambil setiap keputusan dalam hidup kita. Ketakutan bukan kebijaksanaan untuk menentukan pilihan sikap pun menilai segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup kita.
Ketika tutur kata dan tindakan diputuskan dari ketakutan bukan kebijaksanaan, maka hasilnya dangkal, senangnya sesaat, dan penyesalannya seumur hidup. Dikisahkan, kemudian setelah Yudas menerima uang tebusan yang menjadi haknya, dia menyesal dan bunuh diri.
Padahal Yesus, sang Guru kehidupan mengajarkan dan mengingatkan kepada kita untuk bijaksana dalam bertutur dan bertindak. Yesus mengontrol situasi ketakutan yang dialami para Murid, di malam terakhirNya bersama mereka. Yesus juga melarang para Murid untuk bertindak ceroboh menggunakan kekerasan melawan para prajurit yang datang menangkap-Nya.
Para Murid mendengarkan dan patuh. Mereka bisa mengontrol situasi dan tetap tenang di tengah situasi yang mengancam mereka. Para Murid juga tidak teriak bodoh, dungu, dan maki-maki Yudas dengan seribu kata makian. Malahan mereka setia bersama Yesus, memberikan kekuatan satu sama lain, menggalang solidaritas dengan sambil berharap. Sikap diam mereka menjadi suara yang paling keras untuk memberontak kelaliman pun kebobrokan pedang dan pentungan penguasa.
Sepanjang perjalanan karya dan hidupNya, Yesus membantu para murid untuk bijaksana. Bahkan di tengah ketakutan, kengerian situasi yang menggoncangkan batin, Yesus dengan setia mendampingi para murid. Beliau pun membantu mereka agar mampu melihat nilai-nilai dibalik pilihan untuk berani dan melampaui ketakutan dan kecemasan yang selalu memprovokasi serta membantu membidani lahirnya sisi buruk hidup manusia.
Pertanyaannya adalah bagaimana dengan orang yang tidak belajar atau sekolah? Mereka tidak bisa dengan bijak ambil keputusan. Bijaksana tidak selalu dan harus di dapat dari sekolah, karena orang yang sekolah pada zaman ini pun terbukti tidak bijaksana dan banyak yang ceroboh. Para Murid Yesus yang selalu ikut Dia, bahkan yang beriman dan percaya kepada dia dahulu, tidak sekolah tinggi seperti para ahli taurat dan para imam kepala, serta penguasa pada zaman itu.
Bijaksana didapat ketika kita ada bersama Yesus dan mendengarkan ajaran Yesus. Bijaksana juga didapat ketika kita mau belajar. Yang paling baik dalam konteks sekarang adalah kita mau belajar dari kecerobohan para penguasa kita yang sekolah tinggi-tinggi itu dan tidak mengulangi kecerobohan yang sama. Yesus tidak ajak kita untuk berdoa saja supaya batin kita kuat, tapi Yesus juga membantu kita untuk menilai secara kritis realitas dalam kehidupan dan kalau bisa kita mengubahnya untuk menjadi lebih baik dan benar untuk kepentingan bersama.
Yesus sepanjang hidupNya juga memberikan kritik kepada penguasa yang ceroboh dan lalim serta menindas. Ia memperlihatkan kepada kita bukan hal yang baik saja tapi juga hal yang benar yang harus kita buat. “Siapa yang bijaksana biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan Tuhan adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ (Hosea 14:9). Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau (Amsal 2:11).
Dalam situasi seperti ini, ingat pesan ini dalam diri kita: “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita bersama-sama nyalakan lilin”. Dari pada kutuk atau jijik dengan orang yang sudah ODP atau positif terinfeksi Corona, yang kontra produktif, lebih baik dan lebih produktif dan kontributif bagi kita saat ini adalah bersatu dalam spirit iman dan kemanusiaan yang sama.
Kita bersama bersatu dalam pesan iman pun kemanusiaan yang sama untuk saling mengingatkan, saling menjaga, saling menguatkan dalam doa, solider untuk membantu sebisanya agar tiga orang yang positif bisa sembuh dan yang ODP dapat penanganan yang baik dan benar dari tim medis. Serta kita semua saling menjaga diri masing-masing dengan mematuhi peraturan dan himbauan yang sudah ada. Kita juga jangan lupa untuk kritik pemerintah supaya mereka tidak ceroboh dan paling penting baik serta benar dalam melahirkan kebijakan menangani pandemi corona ini.
Mari umat beriman bijaksanalah! Semoga!
(Renungan harian, Rabu 08 April 2020)
(Foto: Pater Erik Ebot, SVD)
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Kisah injil hari ini, dari injil Yohanes secara khusus menyorot pengkhianatan Yudas, salah satu murid Yesus yang dia pilih sendiri. Yohanes menggambarkan secara detil kisah pertemuan Yudas dengan para Imam kepala.
Kompromi dan tawar menawar dilakukan. Iman Yudas kepada Yesus dan juga relasi pribadinya digadaikan dengan uang tiga puluh perak. Deal terjadi. Tinggal tunggu waktu saja bagi Yudas untuk menyerahkan orang yang begitu lama berada dekat bersamanya.
Yohanes juga menggambarkan kepada kita kisah lain yang juga masih berhubungan dengan Yudas. Kali ini di meja perjamuan. Yesus berada bersama para Murid untuk makan bersama. Yesus yang tahu segala sesuatu itu, membuat mood perjamuan bersama jadi tegang.
Dia membuka percakapan dengan kalimat ini: “Di antara kamu ada yang akan menyerahkan Saya dengan tahu dan mau.” Sontak saja, para Murid yang kebingungan mulai saling menatap satu sama lain. Ada yang inisiatif untuk bertanya: “Bukan aku ya Tuhan”, sambil berharap dapat konfirmasi bahwa memang bukan dia yang menyerahkan Yesus. Murid yang lain diam seribu bahasa dengan perasaan takut, diam, penuh curiga.
Yang menarik bahwa Yudas juga menjadi satu orang yang bertanya, “Bukan aku ya Rabi?" Sebelum Yudas bertanya, Yesus sebenarnya sudah mewanti-wanti Yudas untuk menimbang-nimbang keputusannya kembali. Hanya saja deal sudah terjadi. Yudas sudah dengan tahu dan mau menolak untuk berpihak kepada Yesus. Sehingga dalam situasi seperti ini, sulit bagi Yudas mengontrol Iblis yang sudah menguasainya.
Iman kepada Yesus sulit mengubah pilihan sikap, ketika Yudas mau cari aman dan nyaman untuk kepentingan pribadi. Kita bisa baca pilihan sikap Yudas. Di satu sisi itu adalah naluri kemanusiaan yang normal ketika ancaman dan ketakutan sudah diambang pintu. Tapi sayangnya bahwa ketika Yesus memperingati Dia, Yudas dengan tahu dan mau memilih untuk tidak kehilangan muka dan tidak mengoreksi kembali keputusannya untuk menyerahkan Yesus.
Di tengah penyebaran virus corona yang tidak putus ini, tak bisa disangkal bahwa kita berubah menjadi manusia yang mudah takut, mudah cemas, mudah panik. Biasanya dalam situasi seperti ini, ketakutan bukan kebijaksanaan banyak kali menjadi sumber atau dasar bagi kita mengambil setiap keputusan dalam hidup kita. Ketakutan bukan kebijaksanaan untuk menentukan pilihan sikap pun menilai segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup kita.
Ketika tutur kata dan tindakan diputuskan dari ketakutan bukan kebijaksanaan, maka hasilnya dangkal, senangnya sesaat, dan penyesalannya seumur hidup. Dikisahkan, kemudian setelah Yudas menerima uang tebusan yang menjadi haknya, dia menyesal dan bunuh diri.
Padahal Yesus, sang Guru kehidupan mengajarkan dan mengingatkan kepada kita untuk bijaksana dalam bertutur dan bertindak. Yesus mengontrol situasi ketakutan yang dialami para Murid, di malam terakhirNya bersama mereka. Yesus juga melarang para Murid untuk bertindak ceroboh menggunakan kekerasan melawan para prajurit yang datang menangkap-Nya.
Para Murid mendengarkan dan patuh. Mereka bisa mengontrol situasi dan tetap tenang di tengah situasi yang mengancam mereka. Para Murid juga tidak teriak bodoh, dungu, dan maki-maki Yudas dengan seribu kata makian. Malahan mereka setia bersama Yesus, memberikan kekuatan satu sama lain, menggalang solidaritas dengan sambil berharap. Sikap diam mereka menjadi suara yang paling keras untuk memberontak kelaliman pun kebobrokan pedang dan pentungan penguasa.
Sepanjang perjalanan karya dan hidupNya, Yesus membantu para murid untuk bijaksana. Bahkan di tengah ketakutan, kengerian situasi yang menggoncangkan batin, Yesus dengan setia mendampingi para murid. Beliau pun membantu mereka agar mampu melihat nilai-nilai dibalik pilihan untuk berani dan melampaui ketakutan dan kecemasan yang selalu memprovokasi serta membantu membidani lahirnya sisi buruk hidup manusia.
Pertanyaannya adalah bagaimana dengan orang yang tidak belajar atau sekolah? Mereka tidak bisa dengan bijak ambil keputusan. Bijaksana tidak selalu dan harus di dapat dari sekolah, karena orang yang sekolah pada zaman ini pun terbukti tidak bijaksana dan banyak yang ceroboh. Para Murid Yesus yang selalu ikut Dia, bahkan yang beriman dan percaya kepada dia dahulu, tidak sekolah tinggi seperti para ahli taurat dan para imam kepala, serta penguasa pada zaman itu.
Bijaksana didapat ketika kita ada bersama Yesus dan mendengarkan ajaran Yesus. Bijaksana juga didapat ketika kita mau belajar. Yang paling baik dalam konteks sekarang adalah kita mau belajar dari kecerobohan para penguasa kita yang sekolah tinggi-tinggi itu dan tidak mengulangi kecerobohan yang sama. Yesus tidak ajak kita untuk berdoa saja supaya batin kita kuat, tapi Yesus juga membantu kita untuk menilai secara kritis realitas dalam kehidupan dan kalau bisa kita mengubahnya untuk menjadi lebih baik dan benar untuk kepentingan bersama.
Yesus sepanjang hidupNya juga memberikan kritik kepada penguasa yang ceroboh dan lalim serta menindas. Ia memperlihatkan kepada kita bukan hal yang baik saja tapi juga hal yang benar yang harus kita buat. “Siapa yang bijaksana biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan Tuhan adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ (Hosea 14:9). Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau (Amsal 2:11).
Dalam situasi seperti ini, ingat pesan ini dalam diri kita: “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita bersama-sama nyalakan lilin”. Dari pada kutuk atau jijik dengan orang yang sudah ODP atau positif terinfeksi Corona, yang kontra produktif, lebih baik dan lebih produktif dan kontributif bagi kita saat ini adalah bersatu dalam spirit iman dan kemanusiaan yang sama.
Kita bersama bersatu dalam pesan iman pun kemanusiaan yang sama untuk saling mengingatkan, saling menjaga, saling menguatkan dalam doa, solider untuk membantu sebisanya agar tiga orang yang positif bisa sembuh dan yang ODP dapat penanganan yang baik dan benar dari tim medis. Serta kita semua saling menjaga diri masing-masing dengan mematuhi peraturan dan himbauan yang sudah ada. Kita juga jangan lupa untuk kritik pemerintah supaya mereka tidak ceroboh dan paling penting baik serta benar dalam melahirkan kebijakan menangani pandemi corona ini.
Mari umat beriman bijaksanalah! Semoga!
*Rumah Pastoran Waibalun, 08 April 2020

Komentar
Posting Komentar