HATI YANG MEMBERI
Hati Yang Memberi
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Bacaan pertama dari Kisah para rasul pada hari ini menggambarkan kepada kita tentang pola hidup jemaat perdana. Kita mendengarkan bagaimana dengan kesaksian hidup para Rasul dan pewartaan mereka yang menginspirasi dapat menginisiasi begitu banyak orang pada satu visi hidup bersama yaitu pembangunan sebuah komunitas alternatif yang sehati dan sejiwa saling membagi harta milik.
“Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.”
Mereka yang hidup sehati dan sejiwa tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan letakkan di depan kaki rasul-rasul, lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
***
Kemarin saya membaca satu artikel di media sosial yang berisi kisah yang sangat menggugah hati tentang seorang anak SD yang rela menyumbangkan uang tabungannya untuk pembelian Alat Pelindung Diri (APD). Dia sudah menabung uangnya dalam waktu yang begitu lama. Sebenarnya uang yang ditabungnya itu sudah sangat cukup untuk membeli sepeda, tapi karena membaca dan mendengar dari berita bahwa para tim medis di daerahnya sangat membutuhkan donasi untuk pembelian APD, maka anak ini mengurungkan niatnya untuk membeli sepeda dan menyumbangkan uang hasil tabungannya itu.
***
Kisah dari bacaan pertama tentang jemaat perdana dan kisah anak kecil tadi sama-sama menginspiratif. Keduanya juga sama-sama menekankan kerelaan hati untuk memberi. Panggilan hati untuk rela memberi, apalagi memberi segala sesuatu yang berharga tidak secara otomatis lahir dari dalam diri, tapi karena hati yang sudah membiarkan diri dibentuk dan digerakkan oleh suatu nilai, yaitu Cinta-Kasih.
Itulah yang terjadi dengan para rasul dan orang-orang yang mereka kumpulkan serta juga anak kecil tadi. Ketika perasaan kasih tertanam dalam diri otomatis akan muncul empati ketika melihat yang lain hidup dalam kondisi yang berkekurangan atau membutuhkan bantuan.
Saat ini, kita berada dalam situasi pandemi covid19 yang kita sendiri belum tahu kapan berakhirnya. Dalam ketidakpastian ini, ada sebagian orang yang mungkin hidupnya atau barang kebutuhannya masih berkecukupan, tapi ada sebagian orang di sekitar kita yang mulai panik, cemas dan takut, bukan karena teror covid19, tapi karena barang kebutuhan sehari-hari mulai habis bahkan kosong sama sekali. Maka sebagai sesama saudara sehati sejiwa dalam iman akan kebangkitan Kristus, kita diajak untuk memberi dari sebagian yang kita punya kepada mereka, sehingga mereka yang membutuhkan itu masih mampu untuk melanjutkan hidup mereka. “Berilah, dan kamu akan diberi, Karena ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu’ (Luk. 6:38).
***
Marilah kita melanjutkan model dan pola hidup jemaat perdana yang mengajarkan kepada kita kerelaan hati untuk memberi. "Karena hidup itu untuk memberi yang sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima yang sebanyak-banyaknya." Dan terutama, karena hidup diciptakan untuk saling membagi dan memberi arti keberadaan diri di dalam dunia.
Amin.
Oleh P. Erik Ebot, SVD*
Bacaan pertama dari Kisah para rasul pada hari ini menggambarkan kepada kita tentang pola hidup jemaat perdana. Kita mendengarkan bagaimana dengan kesaksian hidup para Rasul dan pewartaan mereka yang menginspirasi dapat menginisiasi begitu banyak orang pada satu visi hidup bersama yaitu pembangunan sebuah komunitas alternatif yang sehati dan sejiwa saling membagi harta milik.
“Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.”
Mereka yang hidup sehati dan sejiwa tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan letakkan di depan kaki rasul-rasul, lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
***
Kemarin saya membaca satu artikel di media sosial yang berisi kisah yang sangat menggugah hati tentang seorang anak SD yang rela menyumbangkan uang tabungannya untuk pembelian Alat Pelindung Diri (APD). Dia sudah menabung uangnya dalam waktu yang begitu lama. Sebenarnya uang yang ditabungnya itu sudah sangat cukup untuk membeli sepeda, tapi karena membaca dan mendengar dari berita bahwa para tim medis di daerahnya sangat membutuhkan donasi untuk pembelian APD, maka anak ini mengurungkan niatnya untuk membeli sepeda dan menyumbangkan uang hasil tabungannya itu.
***
Kisah dari bacaan pertama tentang jemaat perdana dan kisah anak kecil tadi sama-sama menginspiratif. Keduanya juga sama-sama menekankan kerelaan hati untuk memberi. Panggilan hati untuk rela memberi, apalagi memberi segala sesuatu yang berharga tidak secara otomatis lahir dari dalam diri, tapi karena hati yang sudah membiarkan diri dibentuk dan digerakkan oleh suatu nilai, yaitu Cinta-Kasih.
Itulah yang terjadi dengan para rasul dan orang-orang yang mereka kumpulkan serta juga anak kecil tadi. Ketika perasaan kasih tertanam dalam diri otomatis akan muncul empati ketika melihat yang lain hidup dalam kondisi yang berkekurangan atau membutuhkan bantuan.
Saat ini, kita berada dalam situasi pandemi covid19 yang kita sendiri belum tahu kapan berakhirnya. Dalam ketidakpastian ini, ada sebagian orang yang mungkin hidupnya atau barang kebutuhannya masih berkecukupan, tapi ada sebagian orang di sekitar kita yang mulai panik, cemas dan takut, bukan karena teror covid19, tapi karena barang kebutuhan sehari-hari mulai habis bahkan kosong sama sekali. Maka sebagai sesama saudara sehati sejiwa dalam iman akan kebangkitan Kristus, kita diajak untuk memberi dari sebagian yang kita punya kepada mereka, sehingga mereka yang membutuhkan itu masih mampu untuk melanjutkan hidup mereka. “Berilah, dan kamu akan diberi, Karena ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu’ (Luk. 6:38).
***
Marilah kita melanjutkan model dan pola hidup jemaat perdana yang mengajarkan kepada kita kerelaan hati untuk memberi. "Karena hidup itu untuk memberi yang sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima yang sebanyak-banyaknya." Dan terutama, karena hidup diciptakan untuk saling membagi dan memberi arti keberadaan diri di dalam dunia.
Amin.
*Rumah Pastoran Waibalun,
Selasa 21 April 2020

Renungan yg sangat bagus untuk kehidupan yg berarti dan bermakna penghayatan iman benar. Semoga setiap orang memahaminya secara tepat spt renungan ini. "Ukuran yang kamu pakai untuk mengkur akan diukurkan kepadamu". Demikian pula di Mateus : "apa yg kamu inginkan supaya orang perbuat kepadamu, perbuatla demikian kepada orang itu" Tuhan mengasihi kita
BalasHapusAmin... Tuhan Memberkati...
Hapus