GEREJA HATI

GEREJA HATI


Oleh P. Erik Ebot, SVD*

Seorang kawan mengatakan kepada saya bahwa Tuhan tidak menjanjikan hidup yang enak kepada kita, tapi dia juga tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Tuhan juga tidak menjamin akan segera menjawab segala doa dan permohonan kita, dan mengganjari semua perbuatan baik kita sesegera mungkin. Hanya saja, satu hal yang pasti bahwa Dia memberikan kita waktu agar dalam saat-saat itu, kita menjalankan hidup sebesar-besarnya memberikan manfaat bagi orang lain.

Dua rasul, Petrus dan Yohanes adalah dua dari sembilan rasul awal yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kedua rasul yang dahulunya hanya nelayan tak berpendidikan menggemparkan seantero kota Yerusalem yang megah itu. Sebagian orang kagum dengan kuasa Roh Allah yang bekerja dalam dua rasul ini. Sebagian orang, secara khusus kaum penguasa agama dan pemimpin politik di Yerusalem menganggap mereka sebagai perusuh, provokator, tukang onar. Persis cap yang diterima sang Guru ketika masih hidup dan aktif bermisi di Galilea.

Suka dan tidak suka adalah dua penilaian yang disematkan kepada para rasul. Tapi mereka tidak pernah peduli dengan penilaian itu. Mereka hanya berfokus untuk menjalankan misi Yesus yang sudah dipercayakan kepada mereka. Mereka membiarkan diri dilahirkan dan dikuasai oleh Roh Yesus yang membentuk mereka menjadi rasul yang berani mengambil resiko dan terus menuturkan kesaksian mereka tentang Yesus yang bangkit dalam situasi atau berbagai tantangan yang ada di hadapannya.

Tidak ada yang dapat menghentikan kuasa dan karya Roh. Itulah yang terjadi dengan rasul Petrus dan Yohanes. Mereka di belenggu oleh para penguasa yang merasa terancam dengan kehadiran dua rasul ini. Iri hati yang membunca dan ketakutan kehilangan massa pendukung, mendorong mereka untuk meng-karantina-kan dua rasul ini dalam penjara. Tapi apa yang terjadi dalam penjara, tengah malam Malaikat Tuhan datang membuka pintu penjara. Kedatangan malaikat Tuhan membawa pesan misi Allah “Pergilah, berdirilah di bait Allah dan beritakanlah seluruh Firman Hidup itu kepada banyak orang.”

Sebuah pesan radikal disampaikan oleh malaikat Tuhan kepada kedua rasul. Pesan ini dianggap radikal bukan karena isi pesannya, tapi justru karena kemendesakan yang mengharuskan para rasul untuk segera berdiri di depan Bait Allah dan berkhotbah untuk mewartakan firman Allah. Tersirat di sini bahwa, Allah tidak membiarkan utusannya dibelenggu. Tuhan yang hidup itu juga menegaskan bahwa Dia punya kuasa absolut yang tidak bisa dibatalkan oleh penguasa apapun dalam dunia.

Seorang kawan mengatakan bahwa fenomena covid19 adalah hukuman dari Allah bagi manusia. Saya sejujurnya tidak setuju dengan pernyataan itu. Karena tidak mungkin Allah yang kita sebut Mahapengasih rela menghukum kita ciptaan-Nya. Lagian kalau covid19 berasal dari Allah, kenapa yang menjadi korban dan meninggal adalah bukan para pendosa yang dibenci Allah, malahan lebih banyak adalah mereka yang rentan, para orang tua dan anak-anak, orang-orang sederhana yang tidak punya apa-apa. Jadi saya tidak sependapat dengan kawan saya.

Bagi saya covid19 tidak lebih sebagai penguasa lalim yang memenjarakan Petrus dan Yohanes seperti bacaan injil hari ini. Karakter covid19 dengan para penguasa lalim kurang lebih mirip, ingin menghancurkan kuasa Tuhan. Covid19 menutup Gereja, memenjarakan manusia, membunuh banyak orang yang tak bersalah, mempermiskinkan orang yang sudah miskin. Covid19 bekerja dalam diam dan tak terlihat tapi sudah pasti membawa derita dan air mata darah bagi korbannya.

Tapi dalam momen negatif seperti itu, Allah tidak tinggal diam. Allah yang diwartakan Petrus dan Yohanes bekerja dalam cara yang luar biasa. Dia membuka pintu-pintu penjara dan menghancurkan belenggu-belenggu keegoisan dan kesombongan para penguasa lalim yang mencoba mendiamkan suara Tuhan.

Seperti kisah Petrus dan Yohanes, kita yang sementara berada dalam ancaman pembungkaman oleh penguasa lalim bernama Covid19. Tapi Allah selalu datang ke dalam diri kita, membuka belenggu dan tembok keegoisan diri yang memenjarakan hati kemanusiaan kita. Dia hadir dalam masa-masa karantina kita. Dia hadir bukan hanya untuk menyertai kita, tapi mengajak kita bersama-sama untuk keluar dari penjara hati dan pergi menjangkau hati-hati yang lain agar bertemu dalam satu rasa empati, belarasa, komitmen dan perjuangan melawan covid19. Covid19 mengkarantina dan membelenggu kita dan hati kita dari Allah, tapi Allah sendiri membebaskan kita dari kegelapan dan kepengapan penjara hati itu.

Ada satu gambar yang menarik yang saya jumpai dalam internet tentang covid19 ini.  Dalam gambar itu iblis dan Tuhan sedang berdialog. Isi dialognya kira-kira begini:

Iblis: “pasukan covid19-ku sudah berhasil menutup gereja-gerejamu”, sambil menunjuk kondisi bumi yang lagi sakit.
Tapi Tuhan menjawabnya: “Tidak sepenuhnya! Engkau lupa..., Ada yang engkau tidak bisa tutup dan belenggu, Gereja yang ada di dalam rumah dan hati mereka. Itulah yang engkau tidak bisa tutupi.”

Amin!


*Rumah Pastoran Waibalun, Rabu 21 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN

MELIHAT DENGAN MATA IMAN