KETAATAN IMAN DAN TAKUT AKAN TUHAN

Ketaatan Iman dan Takut akan Tuhan
(Renungan Harian, Rabu 01 April 2020)


Oleh P. Erik Ebot, SVD*

Hampir pasti kita semua punya tantangan-tantangan dalam hidup. Ada tantangan yang mudah kita lewati, tapi ada juga yang sulit. Bahkan kita diharuskan untuk memilih antara menghindari tantangan tapi kita akan dicap pengecut, ataukah dengan berani mengambil tantangan itu dan kita akan mendapatkan hasilnya. Memilih dalam situasi dilematis memang  tidak selalu mengenakan, tapi sering kali pilihan kita juga tidak hanya akan membawa kebaikan kepada diri kita tapi juga untuk orang lain.

Bacaan pertama dari Kitab Daniel 3:14-28, mengisahkan Raja Nebukadnesar mempunyai tiga pegawai yang membantunya. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Raja meminta mereka untuk menyembah patung emas yang dibuatnya. Tapi mereka sama sekali tidak mengikuti kemauan raja. Karena tidak taat dan memilih untuk dihukum demi Iman kepada Tuhan, ketiga orang ini dibuang ke dalam tanur api. Akan tetapi, mujizat Allah terjadi, mereka tidak terbakar. Ketiga orang ini diselamatkan oleh iman mereka kepada Tuhan.

Pilihan mereka untuk tetap beriman dan berani mengambil konsekuensi mempertahankan iman di tengah situasi dilematis pun ancaman dari Raja Nebukadnesar sungguh patut dipuji. Mereka bisa saja memilih untuk murtad, menolak Allah dan nyawa mereka selamat dari siksaan Raja. Akan tetapi, iman menyelamatkan mereka. Berkat imannya, mereka mampu memelihara jiwa mereka untuk kehidupan kekal.

Barangsiapa mencintai Nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia, ia memeliharanya untuk kehidupan kekal” (Yoh. 12-25).

Iman kepada Tuhan, membuat ketiga orang tadi berani mempertaruhkan nyawanya dan melalui kesaksian iman seperti itu  kemuliaan Allah nampak sehingga Raja yang sebelumnya tidak percaya menjadi percaya kepada Tuhan. 

Di tengah pandemi corona yang menakutkan, ketaatan iman kita kepada Tuhan  diuji habis-habisan. Kita pasti sering bertanya dalam diri, dalam pengalaman berada dalam rumah, dimana Tuhan ketika umatnya saat ini menderita, ketakutan, berada dalam kepanikan, terpisah begitu lama dari kebiasaan untuk ada di gereja untuk ikut misa harian ataupun mingguan. Apakah Tuhan membiarkan ini semua terjadi agar kita lebih taat dan setia kepada-Nya, ataukah semua ini terjadi karena akibat dari tindakan kita yang seringkali memilih jauh dari pada-Nya?

Yesus dalam injil Yohanes ( 8:31-42) yang juga kita renungkan sepanjang hari ini turut mengajak kita untuk berpegang teguh pada prinsip iman yang benar dan kuat. Kita harus lebih taat kepada Tuhan dari pada manusia. Kita pun mesti lebih takut kepada Tuhan, daripada takut dan cemas dari segala hal yang ada di dalam dunia ini. Tidak ada kepalsuan di balik kebaikan  dan rasa takut akan Tuhan, karena Tuhan selalu melihat ketaatan hati dan komitmen tulus iman kita kepada-Nya serta mengganjarinya dengan berkat yang mungkin belum kita terima saat ini, tapi bisa saja keluarga kita, anak-anak kita pun cucu-cece kita akan terima.  Kebaikan Tuhan selalu benar tapi  kebaikan manusia mungkin ada yang benar, tapi bisa saja lebih banyak yang tidak benar.

Mari dalam masa karantina ini, kita ambil waktu untuk merenungkan apakah iman kita kepada Tuhan sudah membantu kita mengembangkan rasa takut kepada-Nya, pun mendorong kita untuk belajar menjadi taat dan setia setiap hari kepada-Nya? Baik juga kalau kita belajar dari ketaatan Bunda Maria, yang tidak pernah ragu untuk bersama Yesus melalui jalan penderitaan dan Salib,  walau seringkali  hatinya dihantui ketakutan, kecemasan, bahkan tersakiti karena harus melihat Yesus Puteranya menerima tugas Bapa untuk menanggung dosa-dosa kita manusia.

Amin!

Rumah Pastoran Waibalun, 01 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBERI: MEMULIAKAN KEMANUSIAAN

MELIHAT DENGAN MATA IMAN

GEREJA HATI